Dobrakan Sastra Feminis

Sastra Feminis
sumber foto:
www.soulinartphotography.com


Kita harus bangga ternyata Pulau Penyengat itu pada akhir abad 19 telah terlebih dahulu menjadi pusat budaya, sastra, juga bahasa melayu yang hebat.



Dobrakan Sastra Feminis. Karena pernah menjadi "jantung" kerajaan Riau. Pulau Penyengat ini dulunya adalah pusat pernaskahan. Sehingga penyalinan tradisi naskah telah jauh membudaya di lingkungan kerajaan pada waktu itu. Makanya kegiatan menulis dan mengarang merupakan kegiatan yang terpandang.


Salah seorang akademisi yang telah meneliti perkembangan sastra feminis melayu Ding Choo Ming mengungkapkan bahwa di Pulau Penyengat terdapat lebih dari 130 karya sastra hasil dari sekitar 70 orang penulis. Karya yang terkandung sangat beragam juga sarat akan semangat pembaharuan.

Perkembangan karya sastra ini yang semakin subur. Maka dibentuklah perkumpulan para intelektual Rusdiah Klub. Tempat berkumpulnya para penulis dan pecinta sastra untuk mendiskusikan berbagai hal tentang sastra.

Umumnya karya sastra Melayu sangat jarang ditulis oleh perempuan, disinilah Dobrakan Sastra Feminis. Namun di Pulau Penyengat buah pikir mereka justru bermunculan dan mendapat dukungan penuh kalangan bangsawan juga suami-suami mereka.

Dalam kurun tiga generasi ada enam perempuan di garis keturunan Raja Ali Haji. "Syair Saudagar Bodoh" yang ditulis oleh Raja Kalzum, juga cucunya yang bernama Raja Aisyah Sulaeman juga menjadi seorang penulis.

Raja Aisyah ini istrinya Raja Khalid Hitam. Sudara kandung Raja Haji Abdullah, suami dari Khadijah Terong. Raja Aisyah telah menulis beberapa syair dan hikayat. Diataranya adalah hikayat Syamsul Anwar. Raja Aisyah ini menulis pendapat dan kritikannya soal isu-isu sosial sekitarnya dalam buku autobiografi fiktif.

Meyakini dentitas perempuan dan kehidupan yang dijalani berdasarkan standar terwujud dalam karya sastra feminis. Sengaja disampaikan untuk memodernisasi peran perempuan. Karena dunia perempuan yang dialami Raja Khadijah berbeda jauh dengan kehidupan Khadijah Terong, dimana Khadija mendapati kenyataan suaminya jarang di rumah karena memiliki tiga istri lainnya.

Dobrakan Khadijah akan tabunya gender dan seksualitas karena menjalani poligami. Ditulisnya kedalam buku "Jejampi Cinta Agar Suami dan Istri Semakin Harmonis". Buku ini telah selesai disusun pada tahun 1911.

80 persen karakter dalam buku ini berisi tips bagaimana suami tertarik terhadap istri mereka. Dan ini bukan sebuah karya sastra yang mengandung keerotisan. Kesetaraan gender peran suami dan istri untuk mencapai kebahagiaan seksual. Boleh dikatakan ia menyisipkan suara sastra feminisnya dalam sastra Melayu Riau-Lingga.

Khadijah mengibaratkan dirinya "senantiasa didalam duka cita dan murung" karena rumah tangga yang dijalaninya harus senantiasa berbagi dengan istri-istri yang lainnya. Dan Khadijah ini hidup tanpa dikaruniai anak.

Saya teringat bukunya Virgia Woolf "Room Of Her Own", bagaimana menulis itu membuat perempuan lebih mampu menyertakan isi hati dan keinginan. Pun dengan Khadijah ini yang menulis berbagai pengalaman hidup, dari kesulitan finansial, tekanan mental dan hidup seorang diri tanpa anak. Dengan mengembangkan fiksi inilah ia menceritakan pengalaman pribadinya itu.

Memang warisan sastra feminis dari Pulau Penyengat ini bukan satu-satunya karya sastra yang ada di dunia. Tapi setidaknya peran perempuan dalam dunia sastra dari Pulau ini patut kita acungi jempol.

Mungkin suatu saat sayalah yang akan meneruskannya..hihihi. :D

*sumber berita dari Antaranews.com*

Share this :

Seorang emak dari 3 orang putra yang tinggal di Bandung. Kalau ada apa-apa bisa kontak email julayjo@gmail.com ya

Previous
Next Post »
10 Komentar
avatar

Termasuk perempuan yang hebat jika ditahun tersebut sudah membuat sebuah karya sastra.

Balas
avatar

kan mendoakanmuh ceuceu..
Semoga menjadi penerusnya :) eeaaa!

Balas
avatar

Betul banget mas edi... ternyata "malah" sastra mereka lebih layak dan natural :D

Balas
avatar

Hahaha.. sistah Nchie.. amiin semoga terkabul doanya :P

Balas
avatar

sejarah sudah menyebut bagaimana kaum wanita di zaman dulu sudah menunjukan kiprah mereka dsebagai wanita yang punya potensi, apalagi soal sastra, bawaan mereka yang lembut tentu saja akan menghasilkan karya sastra yang indah, salut untuk wanita indonesia, termasuk untuk admin blog ini, hehehe salam kenal dari makassar

Balas
avatar

Hmm, begitulah wanita dibalik kelamah-lembutannya pasti menyimpan kekuatan besar utuk bisa berkarya.. salam kenal lagi bang :D

Balas
avatar

Haduuhh... kemarin pas ke tanjung pinang nggak sempet mampir ke penyengat ... padahal kepengin banget lihat sastra melayu dari tempat aslinya...

Balas
avatar

Waah, sayang ya, padahal saya bisa sekalian nitip cerita dari sana..eh tp ga jadi kan ke pulaunya.. hihii..

Balas
avatar

Abad yang lalu sejarah sudah mengatakan dan mendobrak bahwa kaum hawa merupakan penulis-penulis yang tangguh
dan sekarang abad 30 harus lebih terdobrak lagi dengan gaya yang lebih feminim lagi mungkin

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Untuk hidup sehat, silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus. Ingin bekerjasama? Silahkan kontak julayjo@gmail.com atau by WhatsApp 08966042124, terima kasih.

Follow My Blog

Media Partner