A Self Reflection Jakarta - Bandung


Gara-gara GA nya Om Her nih, nyuruh merefleksikan blog, saya jadi keingetan lagi, hiks. Sedih bercampur haru juga malu *nah loh!* Iya, gimana nggak sedih. Setelah beberapa jam obrak-abrik blog. Lantas baca lagi postingan yang pernah saya buat dengan judul "Kisah Perjalanan Menuju Kantor". Nggak asik sih sebenarnya. Cuma yaa.. Ternyata eh ternyata postingan itu yang bikin mood ini kambuh, Setelah sebelumnya up and down *halah so englis-englisan :)*.

Tulisan itu saya ketik, ketika tengah dalam perjalanan dari rumah (Bandung) menuju Jakarta, tepatnya di Kalibata. Nah, dalam perjalanan itu, saya mendapati kejadian lucu bin ngenes. Tentang kisah sepasang suami-istri, yang kebetulan satu armada travel. Baydeway bukan itu sih inti cerita yang ingin saya refleksikan. Melainkan perjuangan saya mengais rejeki di Ibu Kota. *Duh, mulai lap air mata*

Hmm.. tarik nafas dulu ah, whuuuushaa.. Sedih nggak sih?, kita sebagai orang tua dengan sangat terpaksa harus meninggalkan anak-anaknya. Padahal mereka tengah membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Tapi, mau tidak mau saya melakukan ini, demi mereka juga. Demi keberlangsungan hidup kami. Karena hidup adalah pilihan, dimana saya harus mengeksekusi sebuah keputusan. Bahwa saya harus bekerja.

Pasti anda-anda sekalian bertanya "suaminya kemana?!".. Suami saya ada ko, masih sehat dan masih mencari nafkah. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadapnya. Kami sepakat untuk bekerja sama. Sama-sama cari nafkah. Kami berdua tidak sempurna, pun dengan segala keterbatasan yang ada. Meski pada mulanya suami merasa keberatan dengan keputusan yang saya ambil. Butuh proses empat bulan, untuk mendapat restu dan ridhonya.

Lima bulan sudah berlalu *Oiya, saya sekarang berkantor di Bekasi, dulu di Kalibata. Masih perusahaan yang sama, dibidang penerbitan. Sebagai Marketing online. *Saya bukan penulis. catet ya, hihi.. tapi berharap jadi penulis sih* Semoga terkabul, aminkan dong *jangan tepok jidat ya*
Huhuhu.. Dengan menempuh perjalan Bandung-Jakarta tiap minggu. Sungguh sesuatu banget. Kadang sedih kadang sumringah.

Di hari Jumat malam, saya selalu ready. siap-siap pulkam. Dengan hati berjuta rasa. Dipelupuk mata, terlihat anak-anakku tersenyum bahagia menyambut kedatangan emaknya. Hmmm, jadi greget, pengen cepat ketemu, hik hik. Padahal perjuangan untuk bisa pulkam itu, jreng jreng jrengg.. haiyah, bisa menempuh waktu lebih dari empat atau lima-jaman. Dan berdiri pulak. Iya, dari Bekasi menuju Bandung, seringkali nggak dapat tempat duduk, alias BERDIRI! Padahal kalau dipikir lagi, bayar karcis dengan harga yang sama, kaya penumpang yang dapat kursi empuk itu tuh..*pengennya cakar-cakar kusri*.

Tapi, saya selalu berusaha bersikat tegar. Dibawa enjoy, yaa dinikmati gituu *lirik jari kaki sama betis*. Dan dari setiap kejadian ini, serius. Saya menemukan keasikan tersendiri. Menulis sambil berdiri (pake smartphone) tentunya. Dengan cahaya latar dari hp yang lumayan menyilaukan mata. Plus jadi pusat perhatian orang didalam bus...*kalo ini nggak disengaja* hihihi.

Yups, intinya buat saya, selama kita menikmati proses perjuangan hidup. Apapun yang jadi kendala, lewaaat! Saya berusaha untuk selalu berpikir positif, selalu menyemangati diri. Dan selalu berusaha untuk belajar dan belajar terus. Ya, inilah self reflection saya terhadap postingan yang pernah dibuat. Semua saya kembalikan ke diri sendiri. Sambil tak lupa untuk selalu bercermin. Sebagai pengingat diri.


Komentar

  1. Hebat! Temen sekontrakanku juga, Mak. Anak suami di Surabaya, dia di Semarang. Kalau temen-temen yang pelaju gitu pada disebut pegawai PJKA. Pulang Jumat Kembali Ahad.

    Semangat, Mak! Aku juga mulai siap-siap kalau besok jadi PJKA :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi bener banget mak, PJKAnya. Siyap semangat selalu nih :)

      Hapus
  2. Membacanya, mengingatkan saya pernah naik kereta api dari Jogja ke Solo. Acaranya diminta ngaji di acara pembukaan klinik di sebuah rumah sakit. Dari Jogja ke Solo ndilalah penumpang penuh. Saya berdiri, hhmmm sampe Solo. Seusai ngaji hujan deras, akhirnya saya diantar mobil sampe Jogja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah, Pa ustad ngalamin juga, dinikmati yang penting ya.. Terima kasih kunjungannya :)

      Hapus
  3. saya gak ikut nanya suaminya dimana, kok hehe. Kalau di Bekasi, kopdar2 atuh sama saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mak Myra.. kapan ya kita bisa kopdaran..pengeen :)

      Hapus
  4. Saya juga sekarang masuk semacam kelompok PJKA itu, tapi saya kembali dari Sukabumi nya subuh, jadi PJKSS, pulang jumat kembali senin subuh...
    Di Bekasi, Teh? Saya juga di Bekasi, sekitaran Bantar Gebang. Asalnya sih keluarga tinggal di Bekasi, tapi sudah sekian lalu keluarga pindah ke kampung halaman di Sukabumi.
    Tetap semangat Teh. Sami-sami ngumbara mingguan milarian rezeki nu halal...
    Sukses GA-nya ya Teh.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Titik... Iya, nuhun kang.. Sok atuh kapan-kapan urang ririungan...

      Hapus
  5. Saya datang dan sudah membaca “Self Reflection” di blog ini
    Terima kasih telah berkenan untuk ikut lomba saya ya
    Semoga sukses

    Salam saya
    #19

    BalasHapus
  6. Yup, berpikir positif, semangati diri jalani hidup...

    BalasHapus
  7. Adi... Terima kasih suportnya.. Saya selalu menyemangati diri.. Salam :D

    BalasHapus
  8. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Fikri, terima kasih.. semoga bisa saling mengingatkan :)

      Hapus

Posting Komentar

Paling Banyak Dicari

Tips 2 Langkah Sangat Mudah Mengelola Gaji Harian

Peluncuran Rangkaian Make Up Martinez Profesional

ASUS VivoBook S Dulu Guys!

Diamlah

Cerita ABG Yang Menggairahkan