Top Social

Pamitan Dulu

Sabtu, 22 November 2014

Tol




Masih kutak-katik tuts keyboard, bingung bercampur lelah apa yang musti kukerjakan sekarang. Sebagian isi kepala inginnya gelar tiker kasih bantal, nggak lupa kipas angin bertengger disebelahku, lantas bobo dengan cantiknya.. hmm suasana yang indah buatku.


Lirik jam didinding waktu udah pukul 15:50 menjelang senja. Aiih, greget banget mustinya saya buru-buru paking baju, cabut dari kantor (kebetulan sabtu ini dapat tugas piket;alias lembur) nunggu angkutan dan duduk manis deh.

*Suer, body rasanya pengen ngejoprak aja... hiks*

Ya sudahlah, apadaya otakku sudah nggak karuan apa yang dipikirin. Yang jelas dalam ingatan wajah anak-anakku, suami dan kedua orang tua seolah menggapai-gapai untuk segera kutemui. Kangennya pake banget. Ok deh aku harus semangat! iya semangat beranjak dari kursi kerja menuju tempat dimana biasa aku naik bis ke Bandung.

Rute dari kantor di Jati Asih menuju Jati Bening *halte bis di Tol* bisa memakan waktu yang nggak bisa diprediksi, bisa sampe dua jam lebih.. eh tapi nggak apa-apa kan udah bisa.. hehehe. Turun di Tol Cileunyi, naik angkot sekali bayar tiga rebu*eh, itu sebelum bbm naik, sekarang?..* halah palingan naik seribu perak.

Maklum emak rempong ini jadi perantau di kota Bekasi, seminggu sekali balik kampung ke Bandung, (nggak nanya kan..?) biasanya sih jumat malam sudah cabut dari Bekasi.

Yups, rasanya nggak bisa lama-lama cuap-cuap nih, makin sore makin nggak karuan macetnya kota Bekasi, mau nyampe jam berapa ke Bandung? Perkiraan sih jam 10anmalam nanti udah bisa stay dirumah *masih perkiraan ini mah...* kan Bandung kalau sabtu? sama aja! macet dimana-mana..
Wish me luck dong.. semoga sampai tujuan dengan selamat tidak kurang satu apapun, malah kalau bisa bertambah (nambah yang bekelin..hahaydeuh).. Mariii semua.. aku pulang dulu yaa, jangan sedih gitu dong ah.. tar senin kita kambek again...huuuek.

#Puisi Untuk Bapakku

Jumat, 14 November 2014

;Bapa
Aku tahu dirimu rindu kupeluk
Aku tahu dirimu merasakan jemariku menjauh
Saat kupulang ke rumah kau jarang kusapa
Kau bertanya 'siapa yang datang' dari balik kamar
Itupun kujawab dengan sepintas

;Bapa
Kini tubuhmu terbaring lemah
Sekedar berjalanpun butuh tuntunan
Aroma tanah merah kerap kau utarakan
Dengan linangan penyesalan berjuta kata
Sebab masa pernah kau hilangkan

;Bapa
Aku paham jalan hidup masa lalu
Aku paham nasihat waktu yang kau jeda
Aku paham tujuan langkah yang sia-sia
Aku paham salah itu dari sengaja
Tapi aku lebih paham diantara kesunyian hati kita
Ada setitik cahaya yang kubawa dengan raga
Yaitu lentera kehidupan dari alam dan kejadian nyata

;Bapa
Sorot matamu doa buatku
Dan jauhku hanya mencari celah 
Kelak kubuat dirimu menangis bahagia
Dengan senyum dan air mata berbunga
Doaku takkan berlalu
Sampai tiba pada waktunya
Sesuai namamu Nurbaya
Nur cahaya, baya laut
Tempat asalmu dilahirkan 
Lautan Qalzam

Kan ku bawa nama ruhmu dari sana.

#Puisi Untuk Bapakku
#Puisi Untuk Bapakku