Top Social

Sastrawan, Apa Pantas?

Senin, 30 September 2013
Embun diperaduan menyelimuti anganku yang tak kunjung berhasil memejamkan mata ini. Padang khayalan senantiasa menggelayuti panorama ingatan diri. Entah dimulai kapan, segala impian impian ini terus memelukku menanti kesesuaian. Aku hanya mencoba menelusuri makna dari segala kejadian dan kegelisahan. Berlalu waktu itu, Yul! Jangan kau terlena dengan segala pengharapan yang belum tentu tuntas pada akhirnya. Itu ucapan seorang kawan.

Lantas, apa yang harus kuperbuat? Menjalani setiap aspek kehidupan saja aku pernah. Tapi hasilnya? belum terlihat. Seolah mencari sanggahan pada diri. Ya sudahlah, iringi saja perjalanan ini" kelak kau akan sampai pada titik yang diberdayan imajinasimu". Segala hasrat, khayalan itu akan dengan sendirinya menopang setiap langkah yang dituju. Alampun senantiasa merujuk dan berseru, jika kau punya ketetapan hati. Ingatlah Yul! setitik pengorbanan raga dan waktu itu akan terbalaskan. Besar kecilnya tergantung kalimat aksi, kalimat reaksi, dan kalimat doa "

Hmm, mungkinkah kawan? aku hanya bertengger di tempat yang kupijak. Berlari kadang, namun selalu terantuk bebatuan dan kerikil yang bertebaran dimana-mana. Lelah, marah dan dusta seakan menyeringai memenuhi ambisi dan emosi itu. Pernah kubersorak sorai atas kemampuanku ini, kawan. Namun secepat kilat, temaram itu menghampiriku. Apa yang salah?" Aku selalu berpikir keras mendampingi hasrat itu, ingin kuwujudkan dan kutebar kebahagiaan itu pada orang disekelilingku.

Hahaha..!" Seringai kawan seolah menyudutkan keahlianku. Yul..Yul..! Begini sajalah, bagaimana kalau kutugaskan kau mendampingi keahlianku dan kemampuanku dalam berkata dan berucap dikalimat maya? ini sepintas terlihat sepele. Tapi jangan kau sekali-kali menganggapnya demikian. Dunia maya itu penuh taktik dan tipu daya. Untuk awalan kutugaskan kau menyeleksi dan memprediksi, setiap sanggahan dan aduan para pengikutmu dan yang mengikutimu. Lihat gerak gerik mereka, apa saja kalimat tipu daya dan sumpah serapah yang selalu tertuangkan dalam dinding ruangan tak bertepi itu.

Lalu ikutlah dengan arus yang sengaja mereka tebar sebagai ekploitasi diri dari kemampuannya. Ikuti jejaknya, pilah mana yang mampu menjelmakanmu jadi sesuatu, dan pemujamu yang terselubung mengangkat jempolnya tanda setuju. Dengan begitu kau mampu memperdayai mereka. Namun jangan pula kau nantinya sersuka cita tanda kemenangan itu. Banyak diantara para penyeru itu bertabiat layaknya musang. Hati-hatilah! Kawanku mewanti-wanti menanamkan amanat.

Kini disetiap sudut waktu itu, memelukku dengan erat dan ikhlas, akupun sabar dan berani berucap sebagai akibat dari keputusanku menerima apkirannya. Ya.., ternyata aku mampu! Lihatlah kawan, pendirian itu mampu kutegakkan. Karena aku berusaha melalui butiran debu itu dengan rasa penuh pemahaman. Sesungguhnya kalian tidak akan tahu, apa arti ini. Hanya yang mampu menerjemahkannya dari sudut pandang keharmonisan, yaitu naluri seorang pujangga. Keselarasan kan didapati dari petuah dan pepatahnya.

Perbedaan Itu Sangat Jauh

Jumat, 20 September 2013
Hmm.. wedding anniversary..," kapan ya saya merayakannya? Rasa-rasanya belum pernah. Ya, walau pun Perbedaan Itu Sangat Jauh tidak pernah saya ataupun suami mengingat hal ini, konyol memang. Untungnya kami berdua tidak pernah mempermasalahkannya. Enjoy dengan keberadaan kami sekarang.


Sedikit cerita mengenai perjalanan rumah tangga.


Usia pernikahan kami memasuki yang ke 17 thn, anakku yang paling besar berumur 16 thn kelas 1 SMA, kedua 14 thn kelas 3 SMP dan yang paling kecil baru berusia 8 bln, jauh banget ya jarak usia dengan kakak kakaknya, (kebobolan) hehehe. Tentunya kami amat sangat bahagia dengan keberadaan anak-anak ini.

Usiaku terpaut sangat jauh dengan suami yaitu 16 thn, saya yang menikah diusia 21 thn dan suami kala itu 37 thn (tapi suami asli single lho), alias bujangan, hehehe.


Begitu memasuki mahligai rumah tangga *ceilee bahasanya* saya khususnya kaget dengan segala hal yang menyangkut perbedaan pola pandangan, sikap dan reaksi. Bagaimana tidak, suami yang perfeksionis, lemah lembut dan saya yang agak urakan dan sedikit tomboy kata orang..hihihi, juga sifat manja tidak hilang sampai sekarang. Ahh..Perbedaan Itu Sangat Jauh tapi beruntung aku mendapatkan suami yang penyabar, pendiam dan penuh kasih sayang.

Berselisih paham !? tentu itu yang kerap kami lalui, terlebih saat memasuki usia pernikahan ke 10 thn. Banyak godaan, entah itu ekonomi, anak dan karakter masing masing yang kadang tak mau mengalah, egois. Saya yang selalu bertindak cepat dan suami lemah lembut kadang menjadi penyebab perselisihan.



Tapi itu dulu, kini seiring berjalannya waktu, masing-masing dari kami mulai mampu menyingkapi perbedaan yang ada.Dan ini ada 5 hal yang saya lakukan supaya perbedaan itu tak menyebabkan runtuhnya ikatan pernikahan dan insya Allah langgeng :



1. Jika suami marah saya yang diam

2. jika suami menyalahkan bila terjadi sesuatu saya juga diam, menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan penjelasan dari saya.

3. Jika saya melakukan kesalahan cepat cepat meminta maaf

4. jika suami melakukan kesalahan dan berujung ardu argumen, saya yang duluan minta maaf.

5. saling memahami kelemahan dan kekurangan.



Karena Perbedaan Itu Sangat Jauh, kadang logika akan suatu hal tidak bisa diterima. Untuk itu disinilah saya sebagai istri dituntut lebih mengalah dan menjadi pembela saat suami mengalami masalah. Sedikit terkesan Tidak adil?! kata orang. Tapi menurutku sangat adil, karena Allah menyatukan sepasang manusia supaya mampu saling melengkapi, mensyukuri apa yang ada. Dan satu hal lagi yang selalu kulakukan adalah, mencoba untuk terus jatuh cinta sama suami..hihihi. Indah ternyata merasakannya. Karena jurus ini menurutku mampu menolak pihak ketiga dan melanggengkan keharmonisan. Karena pernikahan bagi saya adalah sarana ibadah. Dan segala sesuatunya saya kembalikan pada Allah SWT.




Asmaraku Melayang

Kamis, 19 September 2013
Haaaaaa!! Teriakku sepenuh jiwa. 
Tak,apa kan? Kejayaan macam apa perilakumu itu
Aku setengah mati mendongkakkan rasa yang membara ibarat gemuruh yang tengah bergumul dihempasan angin nan dahsyat


Waktu yang mengiringi hanya ulasan dikehadiranmu, keberadaanmu ibarat bayanganku sendiri. 
Aku kadang mencaci diri sekedar mencari arti. 
Atau memelas raga walaupun sering kau hempaskan. 
Kemanakan naluri yang dulu begitu tertantang dan terbentang, menggelayut disetiap sibakkan harum rambutku.

Merana kau hilangkan nalurimu, merona meskipun hanya tatapan kilat yang sendu dan ragu
Sebegitu benci-kah dirimu pada keadaan? 
Kau tak mau memihak adanya diriku. 
Tertelan sendiri dengan santai dan membara penuh ketidakjelasan.

Padahal aku harapkan jelaga itu tumpah ruah, 
seperti halnya gulungan ombak yang bergairah.
Terlintas berharap menyudahi, namun romanmu tak sanggup kupenuhi. 
Pesonamu begitu menyayat hati seakan sengaja kau kalungkan supaya ku tak pergi. 
Sungguh egois yang mendayu dan menyatu. 
Karena ternyata akupun setuju, celaka memang. 
Tapi itulah yang hendak kutuju dan kutiru.

Terluka

Selasa, 10 September 2013
Kau berkata bahwa semua baik dan aman
Sedangkan burung yang melayang diangkasa
Mengepakkan sayapnya hanya sebelah
Angin itu telah menjadi sifatmu yang terbuka


Dengan anggukan setuju dan hilang memudar
Biaslah semua kalimat yang kau hembuskan
Terlalu kau memikat arti kata yang tersembunyi
Sebabkan aku hanya melenguh tanpa nafas

Kadang kau hanya bisa memeluk angkara
Tak ubahkan pribadimu yang basa basi
Hanya dengan tutur diraga ucap dicerna
Kau sengaja mengebiri hati yang lapang ini

Pernah kuterhempas dalam jiwa yang seolah hanya bayangan
Ketika kesyahduan berontakmu menenggelamkan akal
Lalu terngiang semua terbata bata dan jelas
kini hanya helaan kepasrahan diantara ketidakjelasan

Analogi Hati Dan Opini

Jumat, 06 September 2013
Marah, kecewa, benci semua menyatu kala mendapati pasangan yang tidak sepaham. Keributan besar ataupun kecil acap kali menjadi bagian dalam mengarungi rumah tangga. Terkadang hal sepele menurut versi kita, ternyata bisa menjadi besar dipandangannya. Terutama masalah anak dan ekonomi. Hal dua ini sering menjadi pemicu pertengkaran. Yang satu merasa benar yang satunya lagi merasa dipojokkan.

"Andai aku berada diposisi sebagai suami" kan kupikul tanggung jawab itu dengan segenap keihklasan, pantang menyerah. Tidak mengeluh dikala susah, tak mengeluh dikala sakit dan tak mengeluh bila ditimpa musibah. Semua kulakukan demi keluarga. Sekuat tenaga menjadi pemimpin yang arif, tidak  kasar dalam berucap dan bertindak, menjadi penyeimbang pasangan, menjadi contoh dalam kegigihan meraih impian. 

Mungkin karena pengaruh meodernitas, ternyata banyak keluarga yang pincang dalam mengambil keputusan. Merasa lebih pintar dan tahu segalanya, hanya akan memandang rendah dan kerap menyepelekan disaat berargumen. Sedangkan demi fitrahnya sebagai istri harus mengikuti apapun petunjuk suami "kewajiba mutlak" Namun seiring berkembangnya jaman, wanita saat ini mendominasi dalam keuletan, kepintaran, jabatan, supel, mampu menghalau rintangan dan tahan banting mengahadapi cobaan. Banyak para lelaki (khususnya suami) tidak mau mengakui kelebihan wanita dalam mengambil keputusan. Diri merasa tak diakui, tak dihormati dan terpojok kala mendapati kebenaran dari penjelasan ataupun pembelaan dari wanita (istri).

" Andai aku mampu memenuhi kriterianya" menjadi istri yang mampu memenuhi segala kebutuhannya, rumah yang bersih dan tertata rapi, anak anak yang sehat, makanan selalu tersaji juga sebagai obat dikala sakit. Mengibaratkan diri seperti jam, mengingatkan apabila ada yang terlupa. Mendengarkan kala berbicara, sesering mungkin memberi pelukan tanda dukungan, kecupan mesra tanda kasih"

Namun hanya sekian persen yang mampu terpenuhi, bukan tidak bisa memenuhinya, hanya saja kamipun (wanita) mempunyai alasan, "kenapa?"...


 ''Jangan pernah berharap lebih jika tak mampu memberi lebih''
"Jangan memberi petunjuk jika tak memberi petuah"
"jika ingin berjalan disatu haluan, bawalah perahu itu dan rangkul kami, ajak kami mendayung bersama"
"Jangan simpan kami di koridor yang dengan mudah tertelan ombak"

Bukti, bakti dan harga diri jangan dijadikan alasan tuk mengebiri, turut, ikut dan larut ada dalam makna sebuah kebersamaan hidup. Karena tuntutan hidup semestinya dikonfirmasikan dalam kesanggupan dan kerelaan.

RENUNGAN KOPI..

Rabu, 04 September 2013

Sebenarnya renungan kopi ini tidak sengaja saat memperhatikan segelas kopi yang tertuang di hadapanku saat ini. pikirku " untuk apa aku meminumnya? dan mengapa harus kopi, tidak yang lain!". Setiap hari yang dilalui selalu di temani segelas kopi, kopi hitam. 


Ya, aku amat menggemari minum kopi. Selain menguatkan pikiran juga bisa bikin tenaga ini tambah ekstra. Tak meminumya satu hari, ibarat orang sakaw. Badan jadi lemes dan pikiran kurang fokus, ini sih menurutku". 

Lalu kuperhatikan lagi segelas kopi ini. Hmm..ada sensasi yang aneh menurutku, sambil sesekali kuhirup seteguk demi seteguk. Kunikmati rasanya, aromanya dan ternyata kutelah membangun hubungan sangat erat dengannya. 

Bayangkan saja, begitu bangun tidur yang ku buat pasti kopi, selain meminum air putih terlebih dahulu tentunya. Sambil masak, saat santai, saat ngobrol bareng suami atau teman, saat melamun, dan tentunya saat menulis cerita renungan kopi ini. 

Kopiku menemaniku dengan setia. Lebih setia dari seorang sahabat, hehehe. Saatku terbangun tengah malam, karena tidak bisa meneruskan tidurnya lagi. Bergegas menuju dapur, kubuatlah si hitam manis ini. Di hadapan komputer sambil menulis, entah kenapa mata dan hati ini tak luput darinya. 

Pernah suatu waktu aku ke habisan kopi, ku belilah yang sachet, saat berjalan menuju warung para tetanggakupun tahu kalau aku pasti membeli kopi. Semua orang di sekitarku tahu kalau aku pecandu kopi. Kopi..kopi..dan kopi..Hmmm. 

Tapi kalau kakakku datang, wah bisa bisa ngumpet saya, ia suka ngelarang aku minum kopi..nyebelin' kalaupun mau ngopi musti yang pake campuran susu. Sedangkan aku tuh ga suka banget sama kopi yang ada susunya, suka sakit perut, ini terus terang aja sih. Tapi bukan berarti aku fanatik juga hihihihi. 

Sekalian mau berbagi renungan kopi 2 resep ala "sep yuli" niy... siap yaa..

Kopi penyemangat : 
Bahan : Kopi, Gula aren, air mendidih. Dan gelas yang ada pegangannya. (biar ga panas kalau dipegang) hehehe. 
Caranya : Tuangkan satu sendok makan penuh kopi hitam. Kemudian beri gula aren lalu seduh dengan air mendidih, kocek sebanyak 27 kali lalu minum dengan perlahan "srupuuut" JRENG!! dijamin dunia serasa milik sendiri..hahahaha.

Kopi Galau : 
Bahan : Kopi, Gula Pasir (bukan pasir pantai, ya), Air Panas, Gelas yang ga ada pegangannya.
Caranya : Tuang kopi ke dalam gelas, lalu masukkan gula pasir kemudian siram dengan air panas. Meminumnya harus dengan mimik muka sedih *tanda galau*. Srupuuut..galau sirna deh. 

Untuk resep resep yang lainnya editor sedang ngumpulin data dulu. Sabar ya, next episode pasti saya kasih lagi.
Semoga dengan meminum kopi bukan hanya kepuasan semata dimulut dan lenyap seketika. Tapi "beraktifitaslah yang sewajarnya sesuai kondisi. Tidak usah terlalu berlebihan".

Ga Ada Kerjaan Banget Sih..!

Selasa, 03 September 2013
Setiap malam ataupun hari libur, acapkali kulakukan hal ini. Entah mulai kapan kebiasaan ini dilakukan. Yang jelas, begitu muncul rasa gatal mulai menggerayangi. Padahal aku rajin membersihkannya. Mungkin ada banyak faktor hal ini bisa terjadi, entah itu stres, makanan dan pola hidup yang dijalani. 



Tanganku ini tak hentinya melakukan kegiatan ini. Sampai sampai anakku sering kuupah untuk membersihkannya. Jadi teringat waktu kecil dulu. Orang tuaku juga sering memintaku membersihkannya. Upahnya kala itu kalau ga salah lima rupiah, dan orang tuaku masih punya utang yang belum dibayarkan atas ajasaku ini. 

Yul, cabutin dulu uban bapak!'' nanti dikasih uang' Begitu bapaku selalu mengiming imingi agar aku mau melakukannya. Jika dikalkulasi mungkin aku sudah banyak mendapatkan hasil dari kerjaan ini...hehehe. Tapi yang paling menyebelin, Bapaakku suka lupa ngebayar jasaku. Alasannya "nanti dibayarnya kalau Bapak udah gajian".. huaaa.. kadang aku nangis. 

Waktu itu uang lima rupiah banyak banget. Kalau ga salah sekitar tahun 80an gitu deh..*hhihihi dah tue yaa eike*.
Eh.. kini pengalaman itu menimpa anakku..ahahaha..*uufh* kelakuanku sama  persis kaya Bapakku. Kadang aku ngutang dulu...hehehehehe. (jangan ditiru yaa). Tapi upahhnya sekarang udah berbeda, satu helai bisa seribu..nah loh!! kalau ubannya banyak...bisa tekor kite.. Dan kegiatan ini sekarang tambah rutin aja, hampir tiap hari dilakukan tapi jarang kupakai jasa anaku.. wong dia sudah besar.

Suka ga mau kalau dimintain tolong. Kalaupun mau, bayarannya minta dimuka..*weleh*!!. Anak sekarang emang lebih pinter dari orang tuanya. Dipikir pikir ternyata nyabutin uban itu emang hal paling menyenangkan dan kaya ga ada kerjaan lain lagi yaa..? Iseng memang, apalagi kalau sama orang lain. Kadang suka ngantuk dibuatnya. Hayooo... yang pernah pengalaman sama jangan ikut ikutan, yaa..' Untuk saat ini uban dirambut masih pada bocah alias kecil kecil, belum waktunya dipanen..*glek*. Paling nunggu dua minggu lagi..hehehe.

Ngantuk, Lapar Menunggu Kelar

Senin, 02 September 2013
Sedari pagi segala sesuatunya telah disiapkan. Masak buat anak anak ma suami, nyuapin baby. Beres semuanya si baby langsung dibawa sama pengasuhnya (titip tetangga) hihihi. Uang buat setor, KTP dan jiwa raga yang dimaksimalkan (duehh bahasanaya, hehehe). Tak lupa adu argumen dulu ma suami, ngebahas mau diantar engganya".., dalam hati sih, "mending pergi sendiri ga ribet, hehehe". Berhubung kendaraan di rumah cuma itu satu satunya (untuk saat ini *motor*) jadi kita rebutan...hahahaha. Maklum suami tipe orang yang segala sesuatunya harus beres secepatnya..nah loh! Sedangkan ane bininya, masih aga aga lelet gimana gitu..


Saatnya berangkat kerja. Hari ini rencananya mau buka rekening tabungan dulu di Bank Mandiri. Sudah minta ijin sama bos. Plus mau bayar cicilan..Sst ga usah tahu, ya?!"
Begitu sampai tempat tujuan..'ajegile, ngantri!! banyak banget sampai keluar gedung segala, ckckckc.. gawat niy, bisa bisa ga kelar satu dua jam. Lirik sana lirik sini,ngeliatin orang orang yang pada berbaris ngantri "busyet deh, kaya mau dibagi sembako gratis" pikirku dalam hati. Tak lama seorang satpam menghampiri "ada yang bisa kami bantu, bu?" tanyanya. Suami narik tangan "mama liatin apaan sih?! itu cepetin cari kursi CS yang kosong. 'Ada yang bisa kami bantu, bu?!' pa satpam tadi ngulang ucapannya. Ya, saya mau buka rekening..!. Oh, silahkan ibu isi formulir ini *sambil nyodorin kertas*, kalau sudah selesai ibu tinggal ngambil no antrian..!, terima kasih, pak.." jawabku setengah ga ngerti. 

Kubaca formulir ditangan dengan teliti, sambil ngisi, sebentar sebentar berhenti karena tulisan yang tertera terlalu kecil jadi musti dibaca ulang. Lalu suami ngomel "cepet diisinya..! gitu aja ko lama?! Sini saya bantu.."  Tapi aku ga ngegubris ucapannya. "Udah saya juga bisa ko..! sambil tersenyum kecut *beuhg*.. Tak lama namaku dipanggil, ternyata no antrianku sudah diambilin sama pa satpam tadi..*baiknya..', terima kasih ya pa satpam*. Dan seorang perempuan cantik menyapaku dengan sangat ramah..dan bla bla bla, lalu ia menjelaskan secara detail tentang segala peraturan di Bank Mandiri. Beres semua, ok deh..ternyata ga lama ko" pikirku. Lalu iapun memintaku menandatangani syarat syarat dan ternyata membubuhi tandatangan saja butuh waktu yang lumayan lama. "Itu loh, setiap nulis tanda tangan musti diulang sampai delapan kali...ckckck katanya tanda tanganku tidak sama dengan yang diktp..waduuuh.. jadi sedikit kesel dibuatnya. Ko, bisa ya..?! hihihihihi. 

Padahal yang mendekati banyak *pikirku sih*. Yang kesembilan kali baru gol, sukses. Tarik nafas dulu deh, whuuuuush', "Silahkan ibu menuju teller paling ujung, nanti tinggal minta kode verifikasi pinnya" ucapnya. Kutoleh jam yang ada didinding bank itu, walah.. sudah jam sebelas! gimana ini?! sedikit kalang kabut. Mana bbku drop batrenya ga bisa konfirmasi sama bos. "Coba pap, pinjam hpnya? seruku ma suami. mau ngasih kabar ke bos. Ternyata eh ternyata suami malah ga bawa hape, ketinggalan di rumah.. hahaha. Lengkap sudah kekalutan. "Sabar.." kata suami mencoba menenangkan. Nyari tempat dudukpun susah, penuh semua. lama berdiri lalu ada sorang yang mungkin kasiah liat saya berdiri. "Silahkan duduk, bu..!. Oh, ya terima kasih.. 

Entah karena gundah liat jam tadi atau karena belum sarapan. Tanpa sadar aku tertidur dikursi. Untungnya ada suami ia dengan halusnya membangunkan. "mah..mah.. ko tidur? bangun, tar diliatin orang malu. hihihihi... aku gelagapan. Laper pap..! ucapku. Ya, tar kalo udah beres kita beli makanan. Ga lama tibalah saatnya segala keresahan itu terobati dan tak membutuhkan waktu lama. Akhirnya.. Horee aku sudah punya rekening baru...!! dalam hati. Siap siap nunggu transferan niy..