LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH

Hidup dengan segala permasalahan, membuat-nya  menjadi seorang pribadi yang tegar dan pantang menyerah 

Berawal dari mimpinya sahabatku LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH Kisah nyata ini sengaja kutulis atas seijin dari yang mengalaminya. Sebut saja namanya Mia, ia adalah sahabatku yang pernah satu kos-an kala kami masih remaja. Seringnya kami bersama dalam suka duka, membuat ku sangat mengenal segala kepribadian baik luar maupun dalamnya. Mia, seorang gadis yang kehidupannya pas-pasan mengarungi jalan hidup dengan berbaur diatara teman-teman yang jauh diatas level tingkatannya. Ia sengaja menjerumuskan diri dalam dunia malam. Bukan keinginannya sebenarnya ia berbuat demikian, itu ia lakukan sekedar bertahan hidup dari carut-marut keluarganya. Mia pula yang menjadi tulang punggung keluarga.

Bekerja Paruh Waktu

Mia memang menyukai tantangan terlebih lagi saat menjalani pekerjaannya. Apa saja ia kerjakan selama itu menghasilkan materi. Tapi bukan berarti Mia seorang yang matrelialistis, ia melakukan semua itu demi mencukupi kebutuhan orang-tua dan adik-adiknya, terutama biaya sekolah. Bekerja disebuah Salon dan kebetulan aku yang menjadi mentornya sebagai asisten staylist. Mia tidak memiliki ijasah formal dalam bidang ini, tapi aku melihat kesungguhan dalam mendalami pekerjaannya. Cepat tanggap dan mudah mengerti apa yang ku ajarkan membuat Mia selalu bisa ku andalkan. Dan salutnya lagi ia ternyata nyambi bekerja di sebuah Restoran malam. Jam delapan pagi jadwal masuk kerja di Salon sampai jam enam sore, setelahnya dari jam setengah tujuh malam sampai jam satu malam, Mia bekerja paruh waktu. Tak pernah kulihat ia merasa kecapian atau lelah menjalani dua pekerjaan yang pastinya menguras energi. Selalu riang dan menyenangkan. disinilah awal mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH.

LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH
gambar pribadi

Namun lama kelamaan kulihat Mia makin hari makin menyusut bobot tubuhnya. Kurus kering dan sering ku lihat raut wajah yang kusam dan mata memerah seperti habis minum minuman keras. Tercium bau alkohol dari mulutnya. Setelah memasuki minggu ke empat dipekerjaan barunya, ternyata membuat Mia luluh dan menyerah di Salon. Ia mengundurkan diri. Tapi aku mengerti, bisa dibayangkan bekerja didunia malam walaupun itu sebuah restoran tetap saja akan ada efek dalam pergaulannya. Belum lagi teman-teman barunya, selalu mengajak kesana-sini. Entahlah apa yang diperbuat selanjutnya. Namun kami tetap berhubungan dengan baik. Mia selalau mencurahkan segala kegalauan dan masalah yang menimpanya. Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik.

Tubuh Itu Akhirnya Ambruk

Mia tetap menjadi teman kosku yang baik. Tiap menjelang keberangkatan menuju tempat kerja, ia selalu berpamitan padaku, serasa aku ini Kakaknya. Sibuk dengan dunia malam membuat Mia sedikit melupakan kesehatan. Pernah sekali waktu aku diajak ketempat kerjanya. Memang sebuah restoran tapi, alamak! dilantai atas restoran itu ternyata ada pub-nya juga. Kata Mia kadang ia paruh waktu juga disana dengan imbalan sepuluh ribu rupiah perjam-nya (waktu itu tahun 1995) ya, dengan materi sebegitu membuatnya selalu semangat. Karena kutahu Mia tidak pernah mengeluh soal bayaran, berapapun ia terima asal bisa menyambung hidup. Miris sekaligus sedih melihatnya. Pergi malam pulang pagi itulah Mia sekarang. Sedikit demi sedikit penghasilannya mulai terlihat dari beberapa barang yang dimilikinya. Ia sekarang mampu membeli apapun yang dikehendaki, termasuk lancarnya kiriman uang buat keluarganya. Ada perasaan lega melihat keberhasilannya. Namun aku selalu mewanti-wantinya agar menjaga diri dengan baik, "pekerjaan apapun selama dilakukan dengan niat baik, Insya Allah Tuhan itu maha mengerti ko" itu yang selalu ku katakan pada Mia.

Aku tak pernah mengorek lebih jauh apa yang dilakukan setelah pulang dari pekerjaannya. Karena ku tahu jam kepulangannya jam satu malam selebihnya? who know? Itu bukan urusanku. Seringnya melihat Mia pulang dalam keadaan mabuk berat membuatku kadang bertanya 'apa sesungguhnya yang dicarinya?'. Suatu hari Mia menangis dihadapanku, ia mengatakan bahwa hidupnya serasa hampa, letih, lelah dengan semua yang dijalaninya. Desakan ekonomi dari keluarganya dan perubahan hidup yang diinginkannya. Menjadikan Mia saat ini pribadi labil dan kosong. Hidup tanpa keluarga yang diharapkannya dengan segala kebersamaan dan petuah pepatah dari orang tua, membuat Mia mencari jalan sendiri, apa itu hidup dan untuk apa ia hidup dengan segala keterbatasan yang ada membuat Mia menjadi seorang yang berjiwa besar, Ia tak pernah malu mengungkapkan jati dirinya, siapa dan dari mana jika ada teman yang bertanya silsilah keluarga.

Tiba pada suatu hari kulihat Mia sempoyongan, tubuhnya terkulai lemas dan tiba-tiba ambruk dihadapanku. "Mba aku kayaknya sakit! itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya padaku, 'kenapa? karena setelahnya Aku diharuskan berpindah tugas mengurus cabang Salon di lain tempat dan jarak yang lumayan jauh. Karena kesibukannku mengurus pekerjaan, tak lagi kudengar tentang Mia. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri. "Ah.. Mia, maafkan aku kala itu tak bisa menjadi tempat sandaranmu lagi" Tapi aku mendengar kisahmu dari teman kita, bahwa kau sewaktu dalam keadaan sakit, tanpa didampingi seoranpun, sakitmu mungkin bertubi tubi. Kau berjuang melawannya sendirian. Yang ku dengar dari temanku ternyata Mia sakit typus, tiga minggu lamanya Mia berbaring lemah tak berdaya, hanya tetesan air mata tanda kekuatan. Untungnya ternyata saat itu Mia menemukan seorang tambatan hati yang dengan suka rela merawat dan menyayanginya. Lobi bar itu ada di Mekkah Ia seorang lelaki yang mempunyai kehidupan tak lebih dari kehidupan yang Mia miliki. Hanya perbedaanya lelaki itu berasal dari keluarga mampu.

Pertemuanku dan Mimpinya Mia

Sebulan dua bulan terlewati, aku ternyata merindukan Mia. Memasuki bulan ketiga sengaja pada hari libur kerja ku, ku luangkan waktu untuk menengok keadaan Mia. Pada pertemuan itu membuat kami saling berangkulan dan seolah pelukan Mia tak mau terlepas. Ada air mata kebahagian bercampur keharuan membuat Mia dengan semangat menceritakan segala kisah yang ku lewati. Lantas Mia menceritakan mimpinya padaku "mba, seminggu yang lalu mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH, tapi kenapa ya, dimimpiku itu aku berdiri di lobi bartender yang berada di Mekkah, sangat tak masuk akal!" ucap Mia. Aku sedikit terkejut dan tertegun sejenak, ada relung dalam batinku yang berucap "seandainya Mia tahu apa arti mimpinya?" Dengan menghela nafas kukatakan pada Mia dengan hati-hati. "Mia, sesungguhnya Allah memberimu hidayah agar kamu cepat berlalu dan meninggalkan kehidupan yang saat ini dijalani. Allah terlalu menyayangimu, Ia tidak ingin kau terus terjerumus dalam lembah dosa yang tak berkesudahan" Tanpa bermaksud mengguruinya kukatakan semua menurut logika semata. 
Lalu ku tanya Mia "kamu masih dengan pekerjaanmu sekarang?" Mia hanya mengangguk pelan dan kulihat ada tetesan air mata dipipinya.

LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH
www.ahlusunah.org
Seolah ada kesadaran tiba-tiba di pikiran Mia. Ia merangkulku dengan erat dan menangis sesengukan. Aku pun tak kuasa ikut larut dalam tangisannya. Lalu Mia berkata "Ia mba, kenapa juga ya dengan diri ku, aku kan orang miskin tak semestinya aku lebih memiskinkan diriku dengan pekerjaan ini, aku terlalu menikmati pekerjaanku tanpa melihat arah masa depan yang sesuai keinginan dan cita-cita ku. Terlena dengan hiruk pikuk dunia malam, clubing sana sini. Tak pantas aku berbuat demikian" Ku usap air mata Mia dan kukatakan "Sesal kini itu lebih baik Mia! Kamu tidak usah cemas, yang sudah terjadi terjadilah, saatnya buatmu meninggalkan semua itu hari ini, detik ini. ''Masih banyak pekerjaan lain yang halal menunggumu" Setelah pertemuan itu ada sedikit rasa resah mengingat mimpi Mia tentang LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH "Ya Allah begitu maha mulianya Engkau, Kau sisipkan mimpi kebaikan-Mu pada sahabatku. Aku memohon pada-Mu "Angkat derajat Mia, bimbing ia kembali ke jalan-Mu dan berikan ia kemudahan dalam mencari rezekinya, amiin ya rabb"

Mia Kini

Kini kehidupan Mia jauh lebih baik. Ia telah membina rumah tangga dengan lelaki yang telah menolongnya kala itu. Memiliki dua putra dan putri. Dan yang lebih hebatnya lagi, kini ternyata Mia mempunyai usaha sendiri yaitu Salon khusus muslimah dan Salonnya ini kian hari kian berkembang pesat. Mia sekarang bukan lagi Mia yang dulu selalu berasyik mashuk didunia malam. Kehidupan Mia malah melampaui keberhasilan ku, aku sadar dan tahu betul seperti apa tekad Mia, sedari dulu hingga kini. Keberhasilannya buah dari rasa lelah, keringat dan tak hentinya Mia mencari cara untuk berhasil berkat mimpi Lobi bar itu ada di Mekkah.




Share this :

Seorang emak dari 3 orang putra yang tinggal di Bandung. Kalau ada apa-apa bisa kontak email julayjo@gmail.com ya

Previous
Next Post »
23 Komentar
avatar

Hidup pasti ada masalah besar maupun kecil
Kita harus menyikapinya dengan benar ya Jeng

Mari kita ikut melibas konten porno agar semakin berkurang ABG yang terpengaruh hal-hal negatif.

Jangan lupa ikut kontes saya.
Silahkan cek http://abdulcholik.com/2013/11/01/kontes-unggulanproyek-monumental-tahun-2014/
DL: 1 Desember 2013
Salam hangat dari Surabaya

Balas
avatar

Alhamdulillah. .happy ending... kukira tadinya Mia kena hi aids.. syukurlah hanya tipes..ugh..deg degan bacanya

Balas
avatar

Alhamdulillah..terimakasih sudah berkenan berpartisipasi..sekaligus resmi terdaftar sebagai peserta..Salam santun dari makassar :-)

Balas
avatar

subhanalloh.. luar biasa skali cerita hidupnya Mia..

Balas
avatar

Betul p'deh.. saya malah terinspirasi dari kejadian teman ini..

mari.. kita berantas!! setuju dengan PKK WB

Tulisanku belum selesai p'de,,, pokonya begitu selesai langsung setorr..

Balas
avatar

hahaha... dikirain ada apaan yaa mba Ade.. yang jelas endingnya bikin saya salut sam temen ini..

Balas
avatar

Asikk terima kasih bang..
salam santun lagi deh..

Balas
avatar

Memang mba Ayu.. sampai sekarangpun saya takjub dengan kehidupannya..

Balas
avatar

Saya percaya ...
Orang-orang seperti Mia ini banyak ...
Bahkan mungkin ada yang lebih terpuruk lagi ...

Kita semua berharap ... semoga mereka bisa cepat memperbaiki kehidupan mereka ...
sebab saya percaya ... jauh di relung hati kecil mereka ... sesungguhnya mereka tidak ingin menjadi seperti itu ...

Semoga mereka bisa berbalik ... dan Bangkit !!!
Sehat Jasmani ... Sehat Rohani ...

Salam saya

Balas
avatar

Semoga kehidupan Mia menginspirasi bagi yang membaca kisah ini :)

Balas
avatar

Alhamdulillah akhirnya Mia bisa kembali ke jalan yang diridhoi Allah dan bisa membina keluarga dg laki2 yang dicintainya.

Balas
avatar

Iya Tis, saya juga terinspirasi temen saya ini.. salut

Balas
avatar

Iya alhamdullilah Allah segera menggingatkannya..

Balas
avatar

Syukurlah.. semoga bisa menjadikan pribadi lebih baik dari kisah ini.

Balas
avatar

Ga nyangka belum baca tulisan sebagus ini, mbak. Inspiratif!

Balas
avatar

hihi.. mak Tanti.. *muka merah*.. alhamdullilah ada yang apresiasi.. makasih mak dah mampir :D

Balas
avatar

terharu Mbak bacanya.. hidayah bisa datang pada siapa saja

Balas
avatar

Terima kasih mba.. iya hidayah itu harus dicari dalam artian yang sebenarnya ya

Balas
avatar

Terima kasih mba.. iya hidayah itu harus dicari dalam artian yang sebenarnya ya

Balas
avatar

Allah telah menolong orang yg mau dekat dengan Nya. Semoga banyak yg terinspirasi dengan kisah Mia ini. Ceritanya bagus, megalir teh cumaaaa...kurang panjang hehehe. Bikin lagi dong...!

Balas
avatar

ehmm ... terharu bacanya

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Untuk hidup sehat, silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus. Ingin bekerjasama? Silahkan kontak julayjo@gmail.com atau by WhatsApp 08966042124, terima kasih.

Follow My Blog

Media Partner