Sastrawan, Apa Pantas?

Embun diperaduan menyelimuti anganku yang tak kunjung berhasil memejamkan mata ini. Padang khayalan senantiasa menggelayuti panorama ingatan diri. Entah dimulai kapan, segala impian impian ini terus memelukku menanti kesesuaian. Aku hanya mencoba menelusuri makna dari segala kejadian dan kegelisahan. Berlalu waktu itu, Yul! Jangan kau terlena dengan segala pengharapan yang belum tentu tuntas pada akhirnya. Itu ucapan seorang kawan.

Lantas, apa yang harus kuperbuat? Menjalani setiap aspek kehidupan saja aku pernah. Tapi hasilnya? belum terlihat. Seolah mencari sanggahan pada diri. Ya sudahlah, iringi saja perjalanan ini" kelak kau akan sampai pada titik yang diberdayan imajinasimu". Segala hasrat, khayalan itu akan dengan sendirinya menopang setiap langkah yang dituju. Alampun senantiasa merujuk dan berseru, jika kau punya ketetapan hati. Ingatlah Yul! setitik pengorbanan raga dan waktu itu akan terbalaskan. Besar kecilnya tergantung kalimat aksi, kalimat reaksi, dan kalimat doa "

Hmm, mungkinkah kawan? aku hanya bertengger di tempat yang kupijak. Berlari kadang, namun selalu terantuk bebatuan dan kerikil yang bertebaran dimana-mana. Lelah, marah dan dusta seakan menyeringai memenuhi ambisi dan emosi itu. Pernah kubersorak sorai atas kemampuanku ini, kawan. Namun secepat kilat, temaram itu menghampiriku. Apa yang salah?" Aku selalu berpikir keras mendampingi hasrat itu, ingin kuwujudkan dan kutebar kebahagiaan itu pada orang disekelilingku.

Hahaha..!" Seringai kawan seolah menyudutkan keahlianku. Yul..Yul..! Begini sajalah, bagaimana kalau kutugaskan kau mendampingi keahlianku dan kemampuanku dalam berkata dan berucap dikalimat maya? ini sepintas terlihat sepele. Tapi jangan kau sekali-kali menganggapnya demikian. Dunia maya itu penuh taktik dan tipu daya. Untuk awalan kutugaskan kau menyeleksi dan memprediksi, setiap sanggahan dan aduan para pengikutmu dan yang mengikutimu. Lihat gerak gerik mereka, apa saja kalimat tipu daya dan sumpah serapah yang selalu tertuangkan dalam dinding ruangan tak bertepi itu.

Lalu ikutlah dengan arus yang sengaja mereka tebar sebagai ekploitasi diri dari kemampuannya. Ikuti jejaknya, pilah mana yang mampu menjelmakanmu jadi sesuatu, dan pemujamu yang terselubung mengangkat jempolnya tanda setuju. Dengan begitu kau mampu memperdayai mereka. Namun jangan pula kau nantinya sersuka cita tanda kemenangan itu. Banyak diantara para penyeru itu bertabiat layaknya musang. Hati-hatilah! Kawanku mewanti-wanti menanamkan amanat.

Kini disetiap sudut waktu itu, memelukku dengan erat dan ikhlas, akupun sabar dan berani berucap sebagai akibat dari keputusanku menerima apkirannya. Ya.., ternyata aku mampu! Lihatlah kawan, pendirian itu mampu kutegakkan. Karena aku berusaha melalui butiran debu itu dengan rasa penuh pemahaman. Sesungguhnya kalian tidak akan tahu, apa arti ini. Hanya yang mampu menerjemahkannya dari sudut pandang keharmonisan, yaitu naluri seorang pujangga. Keselarasan kan didapati dari petuah dan pepatahnya.

Share this :

Seorang emak dari 3 orang putra yang tinggal di Bandung. Kalau ada apa-apa bisa kontak email julayjo@gmail.com ya

Previous
Next Post »
10 Komentar
avatar

Waduh harus berhati-hati deh sekarang berkata dan berucap kalimat di dumay nih.. Takut saya disangka musang berbulu serigala nanti sama mbak Yuli hihihi

Balas
avatar

Bila aksara di larut dalam biasan kalimat, akanmenjadi sebuah biasan cahaya yang memiliki banyak makna, namun akan mnejadi sebuah makna yang berarti, bila bisa menjadi segayung air yang disiram diatas padang gurun pasir.

Salam wisata

Balas
avatar

bukan musang berbudlu domba tapi orang berambut ga jelas.. hehehe. pis uncle*

Balas
avatar

Namun senjakala yang kerap menemai aura kehidupan dimana tanah ini di pijak bang.
salam sastra wisata

Balas
avatar

setuju dengan pak dhe...., pilihan katanya sungguh indah... :)

Apa kabar mbak.....? Dah lama saya gak bw..... :)

Balas
avatar

Selamat, Anda telah mampu melawan dan memenangkan "perang" dalam suatu pergolakkan batin yang luar biasa dahsyatnya bahkan sampai menjadi sebuah tulisan berharga, terlebih bagi yang mampu menyelaminya secara harmonis. Salam kenal dan persahabatan

Balas
avatar

hai nov, iya kemana aja say..? alhamdullilah masih ada yang mau komen.. tq ya nov..kita sehat sehat disini..

Balas
avatar

Terima kasih atas ucapannya bang, akan saya jadikan motivasi membuat karya yang lainnya.
salam sahabat

Balas
avatar

Iya benerr.. gak semua jempol yg diberikan itu adalah pujian.. jadi gak boleh terlena. Setuju. Karena bisa aja jempol diberikan sebagai tanda kehadiran meski lom tentu mereka baca.

Balas
avatar

hahay,mba Ade, akur deh kita ya.. dunia maya emang penuh dengan intrik..
tq dah hadir say..:)

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Untuk hidup sehat, silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus. Ingin bekerjasama? Silahkan kontak julayjo@gmail.com atau by WhatsApp 08966042124, terima kasih.

Follow My Blog

Media Partner