Analogi Hati Dan Opini

Marah, kecewa, benci semua menyatu kala mendapati pasangan yang tidak sepaham. Keributan besar ataupun kecil acap kali menjadi bagian dalam mengarungi rumah tangga. Terkadang hal sepele menurut versi kita, ternyata bisa menjadi besar dipandangannya. Terutama masalah anak dan ekonomi. Hal dua ini sering menjadi pemicu pertengkaran. Yang satu merasa benar yang satunya lagi merasa dipojokkan.

"Andai aku berada diposisi sebagai suami" kan kupikul tanggung jawab itu dengan segenap keihklasan, pantang menyerah. Tidak mengeluh dikala susah, tak mengeluh dikala sakit dan tak mengeluh bila ditimpa musibah. Semua kulakukan demi keluarga. Sekuat tenaga menjadi pemimpin yang arif, tidak  kasar dalam berucap dan bertindak, menjadi penyeimbang pasangan, menjadi contoh dalam kegigihan meraih impian. 

Mungkin karena pengaruh meodernitas, ternyata banyak keluarga yang pincang dalam mengambil keputusan. Merasa lebih pintar dan tahu segalanya, hanya akan memandang rendah dan kerap menyepelekan disaat berargumen. Sedangkan demi fitrahnya sebagai istri harus mengikuti apapun petunjuk suami "kewajiba mutlak" Namun seiring berkembangnya jaman, wanita saat ini mendominasi dalam keuletan, kepintaran, jabatan, supel, mampu menghalau rintangan dan tahan banting mengahadapi cobaan. Banyak para lelaki (khususnya suami) tidak mau mengakui kelebihan wanita dalam mengambil keputusan. Diri merasa tak diakui, tak dihormati dan terpojok kala mendapati kebenaran dari penjelasan ataupun pembelaan dari wanita (istri).

" Andai aku mampu memenuhi kriterianya" menjadi istri yang mampu memenuhi segala kebutuhannya, rumah yang bersih dan tertata rapi, anak anak yang sehat, makanan selalu tersaji juga sebagai obat dikala sakit. Mengibaratkan diri seperti jam, mengingatkan apabila ada yang terlupa. Mendengarkan kala berbicara, sesering mungkin memberi pelukan tanda dukungan, kecupan mesra tanda kasih"

Namun hanya sekian persen yang mampu terpenuhi, bukan tidak bisa memenuhinya, hanya saja kamipun (wanita) mempunyai alasan, "kenapa?"...


 ''Jangan pernah berharap lebih jika tak mampu memberi lebih''
"Jangan memberi petunjuk jika tak memberi petuah"
"jika ingin berjalan disatu haluan, bawalah perahu itu dan rangkul kami, ajak kami mendayung bersama"
"Jangan simpan kami di koridor yang dengan mudah tertelan ombak"

Bukti, bakti dan harga diri jangan dijadikan alasan tuk mengebiri, turut, ikut dan larut ada dalam makna sebuah kebersamaan hidup. Karena tuntutan hidup semestinya dikonfirmasikan dalam kesanggupan dan kerelaan.

Share this :

Seorang emak dari 3 orang putra yang tinggal di Bandung. Kalau ada apa-apa bisa kontak email julayjo@gmail.com ya

Previous
Next Post »
3 Komentar
avatar

Terima kasih sanjungannya Octa..
salam sahabat

Balas
avatar

menarik skali quote yang di hitamkan
salam kenal ya ?

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Untuk hidup sehat, silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus. Ingin bekerjasama? Silahkan kontak julayjo@gmail.com atau by WhatsApp 08966042124, terima kasih.

Follow My Blog

Media Partner