Memburu Bahasa Kalbu



Sejenak terdiam menerawang kisah yang mengganggu




seolah perbuatan mencengkrang akan kemampuan




takdir tak bisa terhindar tabir yang selalu menyulut api semangat




menakjubkan perbuatan itu




sesaat lalu menghampiri secepat kilat mengelilingi hendak pergi




gemuruh siulan menghentakkan sanubari dan mencoba mendekati




tapi ku bisa menghindari dari kejaran yang tak hakiki




menatap malam sekedar menyongsong pagi mendekap dalam seumpama masih ada haga diri




terseok melaju tersungkur di tengah penjuru




meraba makna hati, meneliti artian diri




untuk apa aku hidup dan untuk apa aku sanggup




hanya sang waktu yang dapat menunggu..dan akan berlalu




sepaham apa diri menjalani seperti apa hati memaknai




sanggup ku berbuat sanggup pula ku bertanggung jawab




hanya mahligai tekad yang bisa mnjembatani




ku tak lari.

Share this :

Seorang emak dari 3 orang putra yang tinggal di Bandung. Kalau ada apa-apa bisa kontak email julayjo@gmail.com ya

Previous
Next Post »
4 Komentar
avatar

Aku paling sulit menterjemahkan puisi 2 begini
tapi tetap menikmatinya

Balas
avatar

Idem sama komentar Pak Insan Robbani di atas...
'agak susah untuk mencerna'

tapi suka dengan bahasa-bahasa puisi :)

Balas
avatar

yuuk belajar bikin puisi mas..kita nanti saling berpuisi ria..
indah lho menuangkan alam fikiran kita disebait puisi.
dengan hati tentunya..

Balas
avatar

yups hanya seorang dengan penjiwaannya mampu menguraikan setiap bait puisi yang tertuang..

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Untuk hidup sehat, silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus. Ingin bekerjasama? Silahkan kontak julayjo@gmail.com atau by WhatsApp 08966042124, terima kasih.

Follow My Blog

Media Partner