Top Social

Kapan Nge-Blog?!

Minggu, 15 Desember 2013
Yuhuuu..,Saya kembali!, setelah hampir sebulan ga ngeBlog rasanya ada sesuatu yang hilang. Emak so sibuk ini, sekarang-sekarang agak keteteran ngolah waktu *alesan!*. Yoii, kesibukan di kantor yang tidak bisa dikecualikan membuatku tak mampu konstan menulis. Pagi sebelum ngantor ngurus anak-anak yang abegeh, belum lagi si baby yang baru menginjak usia 11 bulan, semua butuh perhatian banget. Bapak-nya? Tersingkirkan sejenak, hehehe *ada waktunya ko* (apaan seeh?!). Yang jelas ditengah padatnya jadwal mengurus ini itu di rumah dan kantor, saya selalu berusaha menyapa teman-teman di dumay, walaupun sekedar nge-like atau komen pendek. Dan maafkeun saya belum bisa BW di rumah teman-temans sekalian.

Begitu banyaknya acara para Blogger-pun tak menampik hasrat kepengen ikutan, terlebih lagi banyak GA yang mustinya ku ikuti, apa daya raga dan fikiranku tersambar ketidaksingkronan waktu. Ya, sebenarnya sih bisa saja nyuri waktu malam kala semua orang di rumah terlelap. Tapi fisik ini sengaja kusisakan buat esok hari. Mirisnya lagi, karena ini pilihan. Terpaksa si baby kutitipkan, beruntung-nya orang yang menjaga si baby tak lain adalah tetangga dekat rumah. Jadi tidak begitu cemas. *dengan bayaran tentunya*. Hati dan pikiran seringkali bentrok, "mana yang harus diutamakan?!" Terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Karena semua berjalan pada porsinya masing-masing *bukan begitu?* hehehe.

Juga dengan cuaca yang akhir-akhir ini selalu turun hujan, karena bawaanku ngojek sendiri ke kantor, alhasil mau tidak mau selalu kejebak banjir. Macet? Itu so pasti, tapi bukan halangan ko buat saya 'suerr'. Cuma sedikit yang kucemaskan, yaitu kala motor kejebak banjir *hiks* Celingukan minta tolong plus air mata. Sedih karena ga bisa benerin motor, ga ngerti mesin. Untungnya para kaum adam dijalanan selalu sigap kala ada perempuan yang butuh pertolongan, dan bayaran untuk jasanya? hihihihi.. saya kasih senyum manis dan ucapan terima kasih. Habisnya mau ngasih bayaran suka pada nolak *lain soal kalau ke bengkel* Namun yang terpenting selalu kusisipkan doa buat mereka.

Meskipun tulisan ini tidak dibuat panjang lebar, setidaknya hasrat ng-Blogku tersalurkan. Ngiri sih lihat teman-teman yang selalu eksis (10 jempol deh buat mereka) *lah jempol tanganku kan dua? sisanya? yaa, hasil kumpulan dari teman yang sehati hihihi* 

Celoteh Niar #Puisi

Senin, 11 November 2013
Ayah, kenapa ibu ga ada? 

sang Ayah berkata"Ibumu telah dipelukannya sang Pencipta.." 

"Ayah, kenapa aku selalu teringat Ibu? 

sang Ayahpun berucap."karena kau dilahirnya, nak!"

"lalu kenapa ibu pergi? 

Ayah sejenak terdiam seraya berucap

"Nak, takdir manusia tiada yang 
mampu melawannya.."

"Lalu kenapa juga ayah tak mencari pengganti ibu?!"

Ayah berujar"Nak, sebelum adanya Ibumu, Ayahmu ini telah jauh mencintai dan menyayanginya. 

Ibumu seorang Wanita, seorang Perempuan dan seorang Panglima dikaumnya. 

"Ayah tak mampu melibas perasaan ini pada selain darinya".

Niar tersenyum bangga

lalu diayunkan tangan Ayahnya,

"Ayo, Yah.. kita bermain ditempat Ibu..!"

Ayahpun meneteskan air mata.




Cerita ABG #Ibu Tiri-Ku Lebay

Angin mendesir menerpa dedaunan di beranda rumah yang memang cukup luas. Rumah itu berada dikawasan elite kota Kembang Bandung. Sayangnya, rumah itu hanya ditempati dua insan manusia, anak dan bapaknya. Sedangkan sosok perempuan-nya telah tiada, meninggal karena sakit. Sebut saja nama anak itu Mimin dan ayahnya bernama Pak Momon dan nama Ibu anak itu (katanya) Mumun. Lengkap sudah urutan nama yang ga bisa dilupakan orang.

Senja itu Mimin dan Pa Momon terlihat asik ngobrol diberanda, ditemani goreng pisang dan teh yang masih mengepul. Mereka terlibat pembicaraa yang lumayan asik didengar.

Pa Momon : "Min, Bapa sebetulnya mau ngomong sesuatu..!"
Mimin        : "Emang Bapa mau ngomong apa? Mimin pasti dengerin ko?!"
Pa Momon : "Gini Min, Bapa-kan sudah lama ditinggal Ibumu, Kasian juga sama Mimin ga ada  yang nyediain makanan atau beberes rumah.."
Mimin        : "Kan bisa ambil pembantu Pa!"
Pa Momon: "Iya, Bapa juga tahu itu, tapi bukan itu yang Bapa maksud Min..!"
Mimin       : "Emang maksud Bapa apa? Oh Mimin tahu, pasti Bapa pengen punya pengganti Emak-kan..!?"
Pa Momon: "Nah, itu..itu, bener. Maksud Bapa yaa.., begitu itu.." (semangat)
Mimin       : "Emang udah ada calonnya, yaa..? Bapa keliatan semangat gitu.."
Pa Momon: "Hmm.. ada sih, tapi Bapa ragu mau ngenalin ke Mimin, takut Mimin ga setuju.."
Mimin       : "Yaelah Paa, kenapa juga harus ragu! Kalau Bapak cocok, Mimin setuju setuju aja.."
Pa Momon: "Beneran nih, min?! Ga bakalan nyesel-kan nantinya..?"
Mimin       : "Idiih, Bapa ini gimana sih, kan tadi Mimin udah bilang.." (muka jutek)
Pa Momon: "Okelah kalu begitu, besok Bapa ajak kesini, yaa..?"

Keesokan harinya Pa Momon dengan dandanan necis plus parfum yang aduhai aromanya, (bisa bikin para cewek keblinger) datang ditemani seorang perempuan yang lumayan cantik dan seksi juga cara berpakaiannya yang masa kini banget. Memperkenalkan diri dengan nama Mince (peranakan Manado).

Pa Momon: "Min, kenalin temen Bapak, yang diceritakan kemarin.."
Mimin       : "Oh, iya.. Selamat datang tante..!" (sambil menjabat tangan Mince)
Mince       : "Waah ternyata Mimin cantik, ya.." (bla-bla dengan basa-basi panjang lebar bikin kuping mimin pengen dijejali kapas).

Setelah pertemuan itu, Dua minggu kemudian disepakati hari nikahan Pa Momon dan Tante Mince. Dengan upacara sederhana berlangsunglah perhelatan itu.





Proyek Itu Bernama "Enok"

Sabtu, 09 November 2013
Entah sejak kapan impian itu selalu kubangun untuk mendatangkan keinginan yang sebenarnya. Mungkin yang aku ingat kala perasaan yang tersisihkan diantara kehidupan yang dijalani. Dimana setiap jalan yang kutempuh selalu saja terantuk dan berhenti dipikiran saja. Padahal selalu kulakukan beberapa motede dalam melaksanakan beberapa syarat dan prasyarat, entah itu melakukan riset atau sekedar menguji perasaan sendiri. Kubangun angan itu dalam setiap ingatan, sebelum tidur dan bangun dari tidur. Namun apadaya semua ya, itu tadi hanya berjalan dalam pikiranku semata.  Dalam cerita itu kuselaraskan diriku sebagai artis dalam setiap episode.


Niat

Tersimpan dalam khayalan semata, kubangun terus menerus impian itu. Sedikit demi sedikit mencurahkannya lewat catatan. Disetiap draff yang tersimpan selalu digaris bawahi. Sekedar mengingatkan tujuan. Menjadikan diri sebagai nara sumber, reportase sana-sini. Ternyata menambah semangat mengejar impian itu. Meskipun ada banyak kendala, entah itu waktu yang harus dibagi antara pekerjaan kantor dan urusan rumah tangga. Belum lagi dengan keberadaan bayi yang  membutuhkan perhatian lebih. Tetap niatan itu menjadi skala prioritas, untuk apa? Untuk kesejahteraan dan masa depan anak-anak.

Usaha

Dalam melaksanakan apa yang sedang dibangun, tidak lupa meminta saran dari para ahli dibidang penulisan, mulai dari cara menceritakan, menarik minat pembaca dan trik supaya pembaca bisa larut dalam cerita yang disajikan. Tidak sampai disitu usaha dalam mewujudkannya, banyak membaca hasil karya orang lain, berinteraksi dengan orang-orang. Karena ternyata, mereka bisa menjadi inspirasi dari sebuah cerita yang akan dibangun. Tidak merasa minder apabila ada banyak kritikan, karena sebuah ketidaksesuaian dalam cara berpikir bisa mengembangkan segala imajinasi yang dirancang. Justru harus semakin tertantang dan mencoba untuk membuktikannya. Meski itu memakan waktu yang tidak singkat, sabar dan banyak berdoa. Insya Allah Tuhan maha mengetahui dan maha segalanya. Karena niat dan usaha yang dilakukan pasti ada imbalannya, apapun bentuknya itu.


Rencana Cerita
Sebut saja namanya “Enok” ya sebuah nama yang desa banget dan agak sedikit norak atau jadul. Dia adalah gambaran dimana aku ingin menjadi seperti dirinya kelak. Seorang gadis desa yang lugu dan plos tapi mempunyai kemauan keras dalam perubahan dihidupnya. Enok pergi dari desa ke kota hanya untuk merubah nasibnya di kampung, dimana ia dan keluarganya hanya mampu menjadi budak tuan tanah. Di kota yang disinggahi, bertemulah Enok dengan seorang bule yang ternyata adalah seorang penulis dan sutradara kenamaan di Amerika sana, ia mungkin sudah ditakdirkan untuk bernasib mujur. Bertemu dengan seorang ekspatriat yang kebetulannya lagi adalah seorang penulis handal. Dan Enok tidak mengetahui ini. Awalnya Enok dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga. Dalam perjalanan cerita itu ada banyak intrik antara penulusuran sang bule tentang kehidupan yang coba dituangkan kedalam tulisan, juga usaha Enok mengikuti jejak sang majikan sampai harus bermasalah dengan Kedutaan. Ending cerita, hasil karya Enok ternyata dijadikan sebuah film yang mendunia. Tapi sang majikan ternyata tutup usia kala Enok mencapai keberhasilannya. Dan meninggalkan warisan, sebuah tulisan rahasia.

Akhir Yang Membaggakan 

Memang cukup lama sebuah proses yang dibangun dalam cerita itu, kira-kira sekitar dua puluh tahun yang lalu. "Ternyata aku telah mengangankannya sejak lama". Dan kudapati semua yang harapkan, materi keilmuan dan kesejahteraan. Terkenal dengan karya yang fenomenal, sungguh telah menjadi angan yang terpendam. Tinggal pelaksanaannya, mudah-mudahan segera terwujud. 



Video ABG Semangat

Kamis, 07 November 2013
ABG ini namya Kevin Attar Abraari

Ia anak sulungku yang baru menginjak usia enam belas tahun pada Oktober kemarin. Kevin sekarang kelas satu SMA di SMAN 1 Cileunyi. Minatnya pada bidang musik membuatnya selalu ingin belajar dan belajar tentang musik, terutama alat musik Gitar. Pertama kalinya Kevin memiliki Gitar hadiah ulang tahun dari saya emaknya, dan gitar ini bukan gitar yang mahal. Karena sebenarnya Gitar ini kubeli dari adikku seharga seratus ribu rupiah. Itupun pake nyicil dulu hehehe.
Pertama saya ngasih kalau tidak salah lima puluh ribu, selebihnya..? lupa-lupa inget (udah bayar belum, ya?) Tapi adikku tak pernah rasanya menanyakan sisa dari tunggakan itu, walah!! sungguh terlalu!


ABG yang Semangat


Dengan semangat Kevin selalu memetik Gitar kapan dan dimanapun waktunya ia berada, malah kadang sampai lupa waktu. Asli lho! Anakku ini belajar sendiri, padahal Papa-nya dulu seorang pemain melodi. Katanya biarin dia bereksplorasi sendiri, nanti juga ketemu jalannya. Papa-nya paling cuma memperhatikan dari jauh, kalau-kalau ada nada yang salah baru ia bertindak. Dalam Video ABG ini Kevin memang terlihat menggebu, maklum jiwanya lagi berkembang, ingin berharap apresiasi lebih dari kawan-kawannya. 

*Ketika merekam Video ABG ini, Kevin masih SMP dan cara memetik Gitarnya-pun masih belum halus, tapi saya merasa bangga dengan kemauannya. Tidak pantang menyerah, coba simak..


Dan bangganya saya sebagai orang tua, saat ini Kevin mampu membeli Gitar dari hasil tabungannya sendiri, ia (katanya) sudah mengumpulkannya selama tujuh bulan. Terkadang pula ia dimintai bantuan teman buat mengajarkan cara memetik gitar, stel senar gitar dengan bayaran lumayan buat beli bakso.. hehehe.
Inilah cerita singkat sosok anak sulungku.

                           "Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"

LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH

Hidup dengan segala permasalahan, membuat-nya  menjadi seorang pribadi yang tegar dan pantang menyerah 

Berawal dari mimpinya sahabatku LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH Kisah nyata ini sengaja kutulis atas seijin dari yang mengalaminya. Sebut saja namanya Mia, ia adalah sahabatku yang pernah satu kos-an kala kami masih remaja. Seringnya kami bersama dalam suka duka, membuat ku sangat mengenal segala kepribadian baik luar maupun dalamnya. Mia, seorang gadis yang kehidupannya pas-pasan mengarungi jalan hidup dengan berbaur diatara teman-teman yang jauh diatas level tingkatannya. Ia sengaja menjerumuskan diri dalam dunia malam. Bukan keinginannya sebenarnya ia berbuat demikian, itu ia lakukan sekedar bertahan hidup dari carut-marut keluarganya. Mia pula yang menjadi tulang punggung keluarga.

Bekerja Paruh Waktu

Mia memang menyukai tantangan terlebih lagi saat menjalani pekerjaannya. Apa saja ia kerjakan selama itu menghasilkan materi. Tapi bukan berarti Mia seorang yang matrelialistis, ia melakukan semua itu demi mencukupi kebutuhan orang-tua dan adik-adiknya, terutama biaya sekolah. Bekerja disebuah Salon dan kebetulan aku yang menjadi mentornya sebagai asisten staylist. Mia tidak memiliki ijasah formal dalam bidang ini, tapi aku melihat kesungguhan dalam mendalami pekerjaannya. Cepat tanggap dan mudah mengerti apa yang ku ajarkan membuat Mia selalu bisa ku andalkan. Dan salutnya lagi ia ternyata nyambi bekerja di sebuah Restoran malam. Jam delapan pagi jadwal masuk kerja di Salon sampai jam enam sore, setelahnya dari jam setengah tujuh malam sampai jam satu malam, Mia bekerja paruh waktu. Tak pernah kulihat ia merasa kecapian atau lelah menjalani dua pekerjaan yang pastinya menguras energi. Selalu riang dan menyenangkan. disinilah awal mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH.

LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH
gambar pribadi

Namun lama kelamaan kulihat Mia makin hari makin menyusut bobot tubuhnya. Kurus kering dan sering ku lihat raut wajah yang kusam dan mata memerah seperti habis minum minuman keras. Tercium bau alkohol dari mulutnya. Setelah memasuki minggu ke empat dipekerjaan barunya, ternyata membuat Mia luluh dan menyerah di Salon. Ia mengundurkan diri. Tapi aku mengerti, bisa dibayangkan bekerja didunia malam walaupun itu sebuah restoran tetap saja akan ada efek dalam pergaulannya. Belum lagi teman-teman barunya, selalu mengajak kesana-sini. Entahlah apa yang diperbuat selanjutnya. Namun kami tetap berhubungan dengan baik. Mia selalau mencurahkan segala kegalauan dan masalah yang menimpanya. Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik.

Tubuh Itu Akhirnya Ambruk

Mia tetap menjadi teman kosku yang baik. Tiap menjelang keberangkatan menuju tempat kerja, ia selalu berpamitan padaku, serasa aku ini Kakaknya. Sibuk dengan dunia malam membuat Mia sedikit melupakan kesehatan. Pernah sekali waktu aku diajak ketempat kerjanya. Memang sebuah restoran tapi, alamak! dilantai atas restoran itu ternyata ada pub-nya juga. Kata Mia kadang ia paruh waktu juga disana dengan imbalan sepuluh ribu rupiah perjam-nya (waktu itu tahun 1995) ya, dengan materi sebegitu membuatnya selalu semangat. Karena kutahu Mia tidak pernah mengeluh soal bayaran, berapapun ia terima asal bisa menyambung hidup. Miris sekaligus sedih melihatnya. Pergi malam pulang pagi itulah Mia sekarang. Sedikit demi sedikit penghasilannya mulai terlihat dari beberapa barang yang dimilikinya. Ia sekarang mampu membeli apapun yang dikehendaki, termasuk lancarnya kiriman uang buat keluarganya. Ada perasaan lega melihat keberhasilannya. Namun aku selalu mewanti-wantinya agar menjaga diri dengan baik, "pekerjaan apapun selama dilakukan dengan niat baik, Insya Allah Tuhan itu maha mengerti ko" itu yang selalu ku katakan pada Mia.

Aku tak pernah mengorek lebih jauh apa yang dilakukan setelah pulang dari pekerjaannya. Karena ku tahu jam kepulangannya jam satu malam selebihnya? who know? Itu bukan urusanku. Seringnya melihat Mia pulang dalam keadaan mabuk berat membuatku kadang bertanya 'apa sesungguhnya yang dicarinya?'. Suatu hari Mia menangis dihadapanku, ia mengatakan bahwa hidupnya serasa hampa, letih, lelah dengan semua yang dijalaninya. Desakan ekonomi dari keluarganya dan perubahan hidup yang diinginkannya. Menjadikan Mia saat ini pribadi labil dan kosong. Hidup tanpa keluarga yang diharapkannya dengan segala kebersamaan dan petuah pepatah dari orang tua, membuat Mia mencari jalan sendiri, apa itu hidup dan untuk apa ia hidup dengan segala keterbatasan yang ada membuat Mia menjadi seorang yang berjiwa besar, Ia tak pernah malu mengungkapkan jati dirinya, siapa dan dari mana jika ada teman yang bertanya silsilah keluarga.

Tiba pada suatu hari kulihat Mia sempoyongan, tubuhnya terkulai lemas dan tiba-tiba ambruk dihadapanku. "Mba aku kayaknya sakit! itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya padaku, 'kenapa? karena setelahnya Aku diharuskan berpindah tugas mengurus cabang Salon di lain tempat dan jarak yang lumayan jauh. Karena kesibukannku mengurus pekerjaan, tak lagi kudengar tentang Mia. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri. "Ah.. Mia, maafkan aku kala itu tak bisa menjadi tempat sandaranmu lagi" Tapi aku mendengar kisahmu dari teman kita, bahwa kau sewaktu dalam keadaan sakit, tanpa didampingi seoranpun, sakitmu mungkin bertubi tubi. Kau berjuang melawannya sendirian. Yang ku dengar dari temanku ternyata Mia sakit typus, tiga minggu lamanya Mia berbaring lemah tak berdaya, hanya tetesan air mata tanda kekuatan. Untungnya ternyata saat itu Mia menemukan seorang tambatan hati yang dengan suka rela merawat dan menyayanginya. Lobi bar itu ada di Mekkah Ia seorang lelaki yang mempunyai kehidupan tak lebih dari kehidupan yang Mia miliki. Hanya perbedaanya lelaki itu berasal dari keluarga mampu.

Pertemuanku dan Mimpinya Mia

Sebulan dua bulan terlewati, aku ternyata merindukan Mia. Memasuki bulan ketiga sengaja pada hari libur kerja ku, ku luangkan waktu untuk menengok keadaan Mia. Pada pertemuan itu membuat kami saling berangkulan dan seolah pelukan Mia tak mau terlepas. Ada air mata kebahagian bercampur keharuan membuat Mia dengan semangat menceritakan segala kisah yang ku lewati. Lantas Mia menceritakan mimpinya padaku "mba, seminggu yang lalu mimpi LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH, tapi kenapa ya, dimimpiku itu aku berdiri di lobi bartender yang berada di Mekkah, sangat tak masuk akal!" ucap Mia. Aku sedikit terkejut dan tertegun sejenak, ada relung dalam batinku yang berucap "seandainya Mia tahu apa arti mimpinya?" Dengan menghela nafas kukatakan pada Mia dengan hati-hati. "Mia, sesungguhnya Allah memberimu hidayah agar kamu cepat berlalu dan meninggalkan kehidupan yang saat ini dijalani. Allah terlalu menyayangimu, Ia tidak ingin kau terus terjerumus dalam lembah dosa yang tak berkesudahan" Tanpa bermaksud mengguruinya kukatakan semua menurut logika semata. 
Lalu ku tanya Mia "kamu masih dengan pekerjaanmu sekarang?" Mia hanya mengangguk pelan dan kulihat ada tetesan air mata dipipinya.

LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH
www.ahlusunah.org
Seolah ada kesadaran tiba-tiba di pikiran Mia. Ia merangkulku dengan erat dan menangis sesengukan. Aku pun tak kuasa ikut larut dalam tangisannya. Lalu Mia berkata "Ia mba, kenapa juga ya dengan diri ku, aku kan orang miskin tak semestinya aku lebih memiskinkan diriku dengan pekerjaan ini, aku terlalu menikmati pekerjaanku tanpa melihat arah masa depan yang sesuai keinginan dan cita-cita ku. Terlena dengan hiruk pikuk dunia malam, clubing sana sini. Tak pantas aku berbuat demikian" Ku usap air mata Mia dan kukatakan "Sesal kini itu lebih baik Mia! Kamu tidak usah cemas, yang sudah terjadi terjadilah, saatnya buatmu meninggalkan semua itu hari ini, detik ini. ''Masih banyak pekerjaan lain yang halal menunggumu" Setelah pertemuan itu ada sedikit rasa resah mengingat mimpi Mia tentang LOBI BAR ITU ADA DI MEKKAH "Ya Allah begitu maha mulianya Engkau, Kau sisipkan mimpi kebaikan-Mu pada sahabatku. Aku memohon pada-Mu "Angkat derajat Mia, bimbing ia kembali ke jalan-Mu dan berikan ia kemudahan dalam mencari rezekinya, amiin ya rabb"

Mia Kini

Kini kehidupan Mia jauh lebih baik. Ia telah membina rumah tangga dengan lelaki yang telah menolongnya kala itu. Memiliki dua putra dan putri. Dan yang lebih hebatnya lagi, kini ternyata Mia mempunyai usaha sendiri yaitu Salon khusus muslimah dan Salonnya ini kian hari kian berkembang pesat. Mia sekarang bukan lagi Mia yang dulu selalu berasyik mashuk didunia malam. Kehidupan Mia malah melampaui keberhasilan ku, aku sadar dan tahu betul seperti apa tekad Mia, sedari dulu hingga kini. Keberhasilannya buah dari rasa lelah, keringat dan tak hentinya Mia mencari cara untuk berhasil berkat mimpi Lobi bar itu ada di Mekkah.




Cerita ABG Yang Menggairahkan

Rabu, 06 November 2013
Cerita ABG Yang Menggairahkan
Anak ABGku

Pada suatu waktu dalam perjalanku menuju rumah sepulang kerja dari kantor. Kulihat ada sepasang remaja yang asik masyuk di taman yang sering ku lalui. Pada awalnya aku tak mau mengubrisnya. 

Tapi setelah seminggu berlalu, kedua remaja itu selalu saja saling berinteraksi di taman. Ada sedikit gerah campur geram. Anak segede gitu ko berani beraninya disore hari asik-asikan berdua di taman. 

Mana seragam SMP-nya belum diganti pula.. fuihhhh, bikin greget aja tingkah lakunya. Inginnya saya Cerita ABG Yang Menggairahkan ini dan bertemu kedua orang tua anak tersebut dan kukatakan bahwa anaknya selalu berdua di taman setiap sore. 

Tapi apa daya semua hanya keinginan saja. Yaiyalah mana saya kenal kedua orang tuanya, si anak itupun tak ku kenal pula dari mana dan anak siapa.

Tepat di hari selasa, dimulailah Cerita ABG Yang Menggairahkan ini, sengaja minta ijin bos untuk pulang setengah jam lebih cepat dari biasanya. Tiba di taman itu dengan modus pura-pura ingin memperbaiki ban motor barangkali kempes. 

Kedua anak tersebut kelihatannya tidak memperhatikan keadaan sekitar dan tidak menyadari kalau saya berada dekat dengan mereka. Mereka cekikikan tertawa dan saling mengusap rambut. 

Deg-degan sih, dalam hati berpikir “tindakan apa yang harus kubuat tanpa menyinggung mereka?”  Samar kudengar mereka berteriak dan saling mengaduh, kadang keduanya gantian saling berdiri kadang pula tarik menarik baju seolah sengaja beradegan mesra. 

Lalu tiba-tiba salah seorang menjerit dan berlari mendekatiku. Nah! Siap siap kupergoki kelakuan mereka.

“Eh kamu sih gara-garanya! Coba kalau tadi kamu yang pertama nyobain, sakit tau! “lah, kan kamu sendiri yang duluan pengen ngerasain” jawab temannya. Haduuuh ni kuping panas bener mendengar kalimat-kalimat yang mereka lontarkan.

 “Wah! Ada apa nih ko seru banget ya?” tanyaku, pura-pura sok akrab. Kedua anak ABG tersebut lalu duduk disamping kananku sambil memegang hanphone. “kalian memangnya tidak sekolah, jam segini masih disini? Dan kelihatnnya kalian sering berada ditaman ini? ini kebetulan lho ibu sering lewat sini?! Tanyaku. 

Lalu berbarengan mereka menjawab “wah ibu mata-matai kita yaa?!” sambil tertawa mereka mengatkannya.  “Engga bu, ini kita lagi ngadain percobaan,  cara merawat anak kucing. Habis kalau anak kucingnya dibawa kerumah, mama alergi sama binatang. Jadinya ya.. disimpan dibawah pohon ditaman ini biar mama ga tahu. Cerita ABG Yang Menggairahkan tadi coba menjelaskan.


“Itu tadi kita lagi nyobain guntingin kukunya, ceritanya mau dimeni-pedi gitu, eh.. malah aku yang kena cakarannya”. Sambil memperlihatkan bekas cakaran yang memang merah memanjang. “Kita sedikit geli merawat anak kucing ini, umurnya baru dua minggu. 

Tiap hari kita ngerawatnya gantian, ya seru-seru gimana gitu hahahaha..” dan rencananya hari ini selain mau dimeni-pedi mau dicreambat juga biar wangi dan cantik bulunya. 

Lalu mereka berdua bergegas kembali ketempat dimana si kucing disimpan, lalu dibawanya menghadapku, sedikit malu dan ada rasa bangga, "oh, ternyata ini hasilnya..aih lucunya!! seruku. 

Dan mereka tampak senang dengan pujian yang ku berikan (dalam hati 'tidakkk, aku juga ga suka kucing') Dan ternyata lagi rumah mereka berhadapan depan taman itu. oalah...Dasaaar Cerita ABG Yang Menggairahkan!!

Cerita ABG Yang Menggairahkan
Piaraan Para ABG
                             
                                 "Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"

Cerita ABG Yang Geje

Senin, 04 November 2013
Para mantan ABG 

Banyak kalimat-kalimat yang menyertakan kata ABG di kata kuci pencarian google mengeluarkan kalimat ‘nakal’ dan menjijikan. Belum lagi dengan segala adegan yang amat sangat tidak pantas. Seolah anak ABG jaman sekarang dipaksa untuk menjadi budak nafsu, kenapa?

Ya, bisa dilihat begitu mudah-nya media menyajikan konten-konten yang tak senonoh
(Sen: uang, On: Siap pakai, Oh:tidak ada penolakan) itulah ciri gambaran tingkah laku anak 
ABG saat ini, alias gampangan, gampang diajak, gampang dipengaruhi dan gampang terjerumus, dan Cerita ABG Yang Geje inilah istilah versi saya mengartikan kata ABG dan kalimat penyertanya :

ABG : anak baru gede (arti sebenarnya dan bermakna positif)
*ABG yang bisa dikatakan labil dalam perkembangannya, selalu mencari jati diri, ingin lebih eksis dari temannya. Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan

ABG : anak bisa gede
*Ya, memang yang namanya anak bisa gede, yaitu yang doyan makan, doyan melahap segala makanan, bisa dipastikan mendapatkan pertumbuhan yang, liat aja meskipun harus antri. Demi makanan kesukaan, mereka rela berkorban (korban waktu)
ABG : Aku Butuh Gatget
*Hare gini ga punya gatjet hadeuh mending tepok jidat deh. Yaa, minimal hape cina juga ga apa-apa deh. (kata Om Ari Subono, katanya)

ABG : Aku Bukan Gadis
*Pengennya sih dianggap begitu terus, apa daya kenyataan menuntutku untuk selalu jujur pada diri sendiri, bahwa saya sesungguhnya sudah punya suami dan tiga anak. (nasib memang) Cerita ABG Yang Geje
ABG : Ah Biarin Gini
*Emangnya siapa juga yang nyuruh begitu, terserah loe deh. Mau begini mau begitu sama saja. Pada pengen eksis gituu..!
ABG : Aku Blogger Gituuh?
*Nah, itu nanyanya sama siapa? Mendingan sobat sobit di dunia blogger yang menilai. Apa pantas saya jad seorang blogger. Soalnya yang motoin ni mobil yang punya mobilnya. Mudah-mudahan saya hihihi..(tetap ngayal lagi)

Yups, asiknya kala temen yang seumur ikut nimbrung soal perkembangan dunia maya. Ada yang sukanya update status ngalay abis biar dikatain ABG tua gaul, atau update statusnya yang galau..galau gimana gitu, biar dikira ABG tua eksis.

Ataupun foto profilnya diganti dengan foto –nya semasa sekolah, alias ga diganti-ganti (atau juga karena ga punya foto lain lagi). Tuuh, liat lapi-nya aja segede gitu, satu-satunya didunia..(hadeuuh)




                          "Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"  























Aku Melihat Dua Lelaki

Minggu, 03 November 2013
siluet google

Ucapmu pada malam lalu menggoreskan setitik celah
Kalimatmu yang beradu menitikan kejelasan
Layar terkembang hanya bayangan semata
Dua wajah menelisik resah dan kian gundah

Aku, Dia dan Kamu
Bersandung diantara perasaan yang membiru
Genangan kerinduan membasuh asmaraku
Pada saat lemah ragaku menjadi kelu
Hadir diantaramu kian semu

Buih angin malam menemaniku mengingat paras
Tertunduk dan syahdu meraba hati yang kian sendu
Saat dimana kurajut sebait kata dan langkah ucap
Ku sengaja sisipkan kedua cincin yang menjerat
Padahal itu pasti kan membawaku kian berat

Jalanan yang tadi kulalui terasa berombak
Lemah tak berdaya dihempasan gairah pikir
Aku menyiangi kalimatku sendiri
Antara janji dan menepati
Tapi tak urung ku mengerti

Ahh, angin malam ini begitutak bersahabat
Hanya buaian perasaan yang kuduga
Padahal semestinya dulu ku tak mencela
Inilah akibatnya jika ku berencana
Namun diakhir ternayata menjadi bencana

Ya, aku rindu kalian berdua
Dimana hati ini terpautkan raga
Antara nista dan dusta
Dilema tak berkesudahan


Hanya mampu bertatap bayangan

Senja kala itu masih merengkuh
Masih terbungkus dengan kokoh
Sengaja ingatan ini kubuat
Biar kalian tahu
Aku sedikit tersesat

 



Dimana Kau Sahabatku?

Sabtu, 02 November 2013
Bingung mau ngomong apaan, pikiranku entah kenapa tiba-tiba mandek. Disatu sisi memikirkan pekerjaan yang belum maksimal kulakukan, disisi lain teringat sahabatku yang entah kenapa dicari-cari jati dirinya seolah lenyap tak bersisa. Padahal aku rindu banget, pengen ketemu. Teringat kala menjalani masa-masa sekolah SMP-ku, dimana kami selalu berdua kemana-pun entah itu jajan dikantin, hangout ataupun ngerumpi diserambi sekolah.

Namanya Priscila Avas Loekita Soedira, panggilan sehari-hari Oki kelahiran Ciomas-Bogor. Dulu ia semasa sekolah tinggal di Bandung karena pengalihan tugas Ayahnya yang berdinas di Departemen Keuangan. Anaknya manis banget, kulitnya tidak putih tapi banyak cowok yang naksir bahkan sampai ada yang sengaja meminta restu orang tua Oki tuk dijadikan tunangannya, walah padahal masih bau kencur sudah banyak yang meminang. Walaupun anak-nya agak sedikit centil dan genit, tapi kepribadian sebenarnya sungguh menyenangkan, menurutku yang memang dekat dengannya. 

Oki yang sedikit mempunyai darah Belanda Arab dan Betawi, membuatnya berbeda diantara kami. Postur tubunya-pun tidak tinggi. Tapi tetap yang aku herankan, ko banyak cowok yang naksir berat ya? Beda denganku yang kala itu emang tak pernah mengubris lirikan cowok, kalaupun ada yang berniat jahil, siap-siap kena bogeman hihihi sedikit preman memang. Suka duka kami jalani, ibaratnya tidak ada Oki ga akan ada Yuli, malah ada teman bilang kalau kami *opst maaf* lesbi. Kata-kata lesbi waktu itu tidak aku mengerti apa artinya, jadi tak pernah kurespon setiap gosipan teman di sekolah. 

Awal persahabatanku dengan Oki, dia baru masuk sekolah SMP pas semester dua. Kuingat begitu ia memasuki ruangan kelas, teman-teman cowokku pada sumringah, ada yang pukul-pukul meja, ada yang sengaja ngeloyor langsung kedepan minta kenalan langsung sama Guru, ckckck.. ada-ada saja tingkah teman -teman cowok waktu itu. Ya, bagaimana tidak, secara dari pakaian seragam saja sudah bisa dilihat, baju atasan putih rapi tapi seragam bawah-nya yang "wow" diatas lutut dibawah paha. Bikin ga ngedip mata. Karena peraturan di Sekolah kami tidak diperbolehkan seragam bawahan diatas lutut. Jadinya, yaa.. langsung kena teguran gitu dari wali kelas yang mendampinginya kala itu. 

Waktu berlalu dan tahunpun berganti, tiba saatnya kami memasuki perpisahan Sekolah, aku mendaftar ke SPK (sekolah keperawatan) dan Oki? ternyata ia kembali ke Bogor sebab sang Ayah telah dipindahkan lagi bertugas di Bogor. Aku yang larut dengan segala tetek bengek persiapan mos sekolah sedikit melupakan akan sahabatku Oki ini. *Yang aku sesalkan sampai saat ini, foto-foto kami dan bahkan alamat rumah-nya yang di Bogor tak kuketahui keberadaannya, hilang*

Pernah sewaktu akan melangsungkan pernikahan tahun 96, aku sengaja mencari alamat terakhirnya yang di Bandung, yaitu daerah Muararajeun lama (berharap ada teman bloger yang bertempat tinggal di daerah itu) tuk mengajaknya menghadiri pernikahanku. Tapi apa dinyana, rumahnya yang memang ngotrak waktu itu, telah ditempati orang lain dan alamat yang di Bogor-pun tampaknya Pak RT tidak mengetahuinya juga, sedih memang. Dan data terakhir yang kudengar ia menjadi seorang penyanyi.
Ya sudahlah mungkin dilain waktu entah dimanapun ia berada, aku akan ada pertemuan itu.

Namun yang tidak habis pikir, setiap ingatanku padanya terlebih seringnya kubermimpi tentangnya, gambaran Oki seakan tidak jelas, hanya menggapaikan tangan tapi tidak bisa kusentuh. Kadang kulihat dimimpi itu, hanya hamparan padang yang luas dan Oki hanya sendirian, sambil menitikkan air matanya. Oh.. Oki, aku harap dirimu baik-baik saja. 

Teruntuk Sahabatku Oki, aku telah lama mencarimu berikan tanda tanda keberadaanmu, walaupun hanya sekilas, insya Allah aku akan menemuimu sebagai apapun dirimu nantinya.

Salam sayang dari sahabatmu Yuli

Aku, Kini, Dan Nanti

Jumat, 01 November 2013
Awalnya ada sedikit keraguan mengungkapkan jati diri yang sebenarnya. Karena "menurutku" tak penting pula orang tahu siapa aku sebenarnya. Tapi menelisik blog teman yang mengungkapkan sisi profil-nya di blog, bikin aku kepincut juga. Bukan bermaksud narsis, hanya sebagai data, siapa tahu ada manfaatnya kelak. 

Nama asliku Yuli Yulia (ciri khas orang sunda kosa kata diulang), entah apa maksudnya kedua orang tuaku memberi nama ini, yang jelas pasti terselip sebuah doa didalamnya. lahir di kota kembang Bandung pada 17 Juli 1975 (masih muda banget yaa? weew ahh!) hehehe. Tapi serius ko, aku merasa muda terus *ciee*, kami berdelapan saudara tapi ada dua kakakku yang sudah almarhum. Jadi kini tinggal enam, aku kedua paling besar. 

Dilahirkan dari seorang Ibu yang kuat dan tegar, mampu membesarkan kami dengan segala problematika kehidupan. 

Sedangkan Ayahku, mantan prajurit TNI yang terlupakan, tanpa tunjangan hidup. Bukan salah pemerintah sih, hanya kami waktu itu (Bapakku) tak pernah memprosesnya. 

Bapakku, dulu (katanya) dibawah Komandan Jendral Yusuf yang sudah almarhum. Oh, ya usia beliau (Bapakku) *jangan kaget* memasuki satu abad lebih. Tapi alhamdullilahnya beliau seorang yang kuat, jarang sekali kulihat sakit (dulu) tapi sekarang, sakit yang wajar dialami seorang yang sudah udzur, pikun dan diabtes plus sifat kanak-kanaknya mulai menerjang, kembali ke awal dilahirkan kala menjadi bocah yang butuh perhatian.


*Ahh, sudahlah. Aku jadi sedih kalau menceritakan kisah Bapakku ini*


Lembutnya lembayung yang mendekap khayalku sedari kecil, ternyata mampu memapahku hingga seperti ini. Ya, aku! yang sekarang menepi dan mendayung diarena maya. 

Bahagia bercampur sendu setelah mengenal dan menjalani keasikannya di dunia maya. Pikiran dan wawasanku terbuka lebar, seluas angkasa yang tak bertepi. Meski belum sempurna keahlianku, namun mampu memberi ciri sedang apa dan akan apa aku kelak?!

Meskipun ada banyak kekurangan yang kumiliki terlebih dengan Disleksia. Menjadikanku seorang yang ingin serba tahu, serba mencari apa dan bagaimana jalan hidup yang akan diraih. 

Sedari kecil aku menyukai dunia penulisan tapi tanpa dukungan orang sekitar. Mencari sendiri! mencoba memahami sedikit demi sedikit makna bertutur kata dalam kalimat. Kadang membaca dari sisa sisa sobekan kertas bungkus makanan, seringkali menjadi pemicu untuk menuangkan ide dikepala. Koran sampai teks iklanpun kubaca saking senangnya membaca.

Cita-citaku waktu kecil, ingin menjadi Polwan, Kowad, penyanyi dan penulis. Tiga impianku kandas, namun ada asa pada keinginan terakhir. Mudah-mudahan yang ini mampu dan harus kuwujudkan, amiin. 

Pendidikanku tidak tinggi, maklum kendala biaya. Tapi itu tidak menjadi masalah bukan? Yang penting apa yang disampaikan orang, aku mampu menjabarkannya dengan jawaban, 'mudah-mudahan' baik.
  
Pengharapan terbesarku sampai saat ini yaitu, membahagiakan kedua orangtua. Memberikan apa yang dulu belum mereka rasakan. Karena mereka telah melahirkanku kedunia ini, tanpanya? Entahlah..?!

Mungkin ini tidak menjawab seutuhnya tentang asal usulku, karena ada sisi lain yang memang menjadi wilayah privasiku. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat kan kuutarakan juga, menunggu momen yang tepat dengan suasana dan kondisi. 


"Mengejar mimpi yang selalu kuimpikan, dan kan kubuktikan",  

"hidup menurutku tak sekedar mengerti dan tahu, tapi harus ada pemahaman disetiap perjalanannya".


Sifat asliku yang suka bercanda dan sedikit norak, tapi dilain waktu saat bekerja, aku butuh keseriusan dan tak suka diganggu. Karena semua hal itu ada pada tempatnya. Ya, terkadang suka keluar jalur juga *dikit* hihihi.

* Inilah garis besar tentangku. Selebihnya? silahkan menjadi teman dan sahabat, biar lebih jelas*

Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo

Senin, 28 Oktober 2013
Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo. Semestinya saya mampu mengapresiasikan segala bentuk informasi, yang terang terangan terus terupdate pada TL, entah itu twitter ataupun facebook. Banyak info yang bikin saya greget. Pengen nge-Blog koneksi selalu jadi alasan klise, hehehe *emang bener ko* 


Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo


Terlebih saat dimana ketentuan dicanangkannya hari ng-Blog Nasional, ni tangan gatel pengen cuwat cuwit mijitin kibot, apadaya semua saya simpan didraf word. Eh.. sekarang malah ada hari Sumpah Pemuda (asli saya Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo) hehehe. 

Begitu banyaknya isi hati tentang semua hal menyangkut Blog. Apa itu nge-Blog? buat apa nge-Blog?. Tetapi nyata nyata berkat nge-Blog, saya mampu bersosialisasi dengan para intelektual dibidang penulisan, wawasan bertambah. Dan jangan tanya, tamanpun nambah terus perharinya. 

Diskusi sana sini menjadikan saya sebagai pribadi yang kuat dan paham akan kesesuaian hidup, berkata dan berkalimat. Walaupun masih jauh dari kata sempurna. Bewe sana sini, meski kadang suka bete kalau komen dimoderasi apalagi pake captha segala, mau komen suka ga jadi, hihihi.. maapkeun ya sobat?!

Tapi setiap postingan teman selalu saya kunjungi ko, tapi komennya kebawa balik alias ga ninggalin jejak, selalu saya lupa hal yang satu itu. Maapkeun lagi yaa.. Saya memang pelupa dan suka tiba tiba los memori gitu, hmm entah kenapa, saya sendiri kurang tahu. Mungkin karena Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo.


Dan sekarang ada hari Sumpah Pemuda, kembali lagi dengan alasan yang sama "lupa" duhduh, kenapa sihh dengan diriku, selalu lupa, lupa dan lupa. Ini mungkin citra anak bangsa sekarang, yang sedikit melupakan sejarah. Bukan karena tidak tahu tapi tidak adanya hasrat mengetahui *jujur lebih baik toh?!* Ada sedikit malu dalam diri. 

Tapi untungnya secara tidak langsung, media elektronik membantu mengingatkan adanya hari Sumpah Pemuda itu. Bangga sekaligus terharu dalam setiap tayangan TV memperlihatkan semangat anak muda saat ini, juga prestasi-prestasi yang bisa membanggakan dan mengharumkan nama bangsa. 

Memang benar jiwa nasionalis kita sedikit memudar ya? mungkin karena berbagai bentuk kecanggihan dunia sosial media. Untuk itu, ada saat dimana kita harus mampu menghargai jasa para pejuang muda yang dengan semangatnya mempersatukan keanekaragaman dalam persatuan dan kebahasaan. 

Saya walaupun setengah muda (hehehe), tetap jiwa muda dan semangat ini selalu ada, mudah-mudahan kedepan ada prestasi yang mampu dibanggakan, karena saya sedang merintis kearah itu, doakan ya temans temans.

Cuma ada sedikit rasa miris dihati, kenapa pula hari ini harus dibarengi dengan aksi demo buruh (pake aksi mogok nasional segala), apa tanda dari semua ini? sebegitu harusnya-kah demokrasi mengeluarkan pendapat? belum lagi dengan aksi-aksi yang tidak bertanggung jawab (perusakan sarana umum), dan itu tentunya merugikan rakya lain dan negara pula. Demokrasi memang seharusnya kita dengungkan, dengan cara yang bijak tentunya. 

Sebagai rakyat, saya hanya ingin meneruskan kalimat dari semangat para pendahulu. Tak mampu memberi lebih tapi setidaknya saya masih punya rasa menghargai. Dan ternyata dengan nge-Blog di hari Sumpah Pemuda yang diwarnai aksi Demo Buruh. Menjadikan rasa apresiasi dalam diri tertuangkan. ya, walaupun awalnya Lupa Antara Nge-Blog Sumpah Pemuda dan Aksi Demo. hehehe..

Incaranku, Ringan Dan Berwarna Perak

Kamis, 24 Oktober 2013

Entah sudah berapa lama, aku ngincer si slim ini. Setiap kali pulang gawe, itu spanduk iklan di toko kompi yang kerap kulalui. Bikin hati tergores banget deh. Pikirku "Liat aja, tar gajian aku sundul tuh produk!" Secara aku yang sekarang memang aktif bergerak dibidang penulisan, tentunya butuh dan perlu banget penunjang yang satu ini. Notebook! ya notebook, bukan buat gaya gayaan, atau biar dibilang masa kini *eh, tapi emang masa kini ya..hehehe*.

Kadang iseng di sela waktu maksi dari kantor. Sengaja mampir sejenak nengok tu incaran, tanya ini itu tentang kualitas barang dan segala kelebihannya, hihihi.., kayanya tuh karyawan di toko bingung "ni orang nanya-nanya mulu? belinya kapan?!"

Yaeyalah, coba bayangin notebook Acer Aspire E1-432 si tipis nan elegan, hhuhuhuu.. mau banget deh!.







Mana prosesor-nya hemat daya lagi, bisa berlama-lama ria depan pc.















“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.